Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke sejumlah titik di Iran pada Jumat, 26 Juni 2026. Serangan itu dilakukan sebagai balasan atas serangan drone terhadap kapal kargo di Selat Hormuz sehari sebelumnya. Aksi militer tersebut menjadi ujian besar bagi kesepakatan sementara yang baru dicapai AS dan Iran sepekan sebelumnya.
Latar Belakang Serangan
Serangan drone pada Kamis, 25 Juni 2026, menargetkan sebuah kapal kargo yang melintas di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Presiden AS Donald Trump menyebut serangan drone itu sebagai pelanggaran gencatan senjata. "Ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan yang baru saja kita capai," ujar Trump dalam pernyataan resmi.
Dampak terhadap Kesepakatan Sementara
Kesepakatan sementara antara AS dan Iran yang ditandatangani sepekan sebelumnya dimaksudkan untuk membuka jalan bagi penghentian perang yang telah berlangsung berbulan-bulan. Kesepakatan itu juga bertujuan memulihkan keamanan jalur pelayaran penting di Selat Hormuz, yang merupakan jalur transit sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Serangan balasan AS menimbulkan keraguan tentang kelangsungan kesepakatan tersebut. Para analis memperkirakan bahwa eskalasi ini dapat memicu konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Reaksi Internasional
Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang darurat untuk membahas situasi terkini. Sementara itu, Senat AS sebelumnya telah menyetujui resolusi perang Iran, yang memberikan wewenang lebih luas kepada Presiden Trump untuk mengambil tindakan militer. Resolusi tersebut disahkan dengan suara 55-45, menunjukkan perpecahan di kalangan legislator AS.
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, mengecam serangan AS dan menyebutnya sebagai "tindakan agresi yang tidak beralasan". Zarif juga mengancam akan membalas serangan tersebut jika AS tidak menghentikan agresinya.
Kondisi di Selat Hormuz
Selat Hormuz, yang menjadi pusat ketegangan, saat ini dalam status siaga tinggi. Beberapa perusahaan pelayaran internasional telah menghentikan sementara operasi mereka di wilayah tersebut. Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 5 persen menyusul berita serangan tersebut, mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
Para ahli memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan di Selat Hormuz dapat mengganggu rantai pasok energi global dan memicu resesi ekonomi di berbagai negara.



