Jakarta - Suara tembakan mengguncang kawasan sekitar Gedung Putih Amerika Serikat pada Sabtu malam waktu setempat. Insiden ini langsung memicu penutupan akses ke kompleks kepresidenan tersebut.
Menurut laporan AFP pada Minggu (24/5/2026), polisi segera menutup akses menuju Gedung Putih. Pasukan Garda Nasional bahkan menghalangi seorang reporter AFP yang hendak memasuki area pusat kota Washington.
Direktur FBI Kash Patel mengonfirmasi melalui platform X bahwa pihaknya telah berada di lokasi kejadian. “FBI berada di lokasi kejadian dan mendukung Dinas Rahasia yang menanggapi penembakan di dekat halaman Gedung Putih,” tulis Patel.
Kronologi Kejadian
Bunyi tembakan terdengar pada Sabtu (23/5) malam. Sebelumnya, pada sore hari, Presiden AS Donald Trump sedang berada di Gedung Putih untuk melakukan negosiasi kesepakatan dengan Iran. Hal ini menambah ketegangan situasi.
Seorang turis asal Kanada, Reid Adrian, mengatakan kepada AFP bahwa ia berada di area tersebut ketika mendengar suara seperti kembang api sebanyak 20 hingga 25 kali. Namun, ia segera menyadari bahwa itu adalah suara tembakan. “Semua orang mulai berlari menyelamatkan diri,” ujarnya.
Para jurnalis yang sedang bertugas di halaman utara Gedung Putih juga merasakan kepanikan. Mereka melaporkan di X bahwa mereka diperintahkan untuk segera berlari dan berlindung di ruang konferensi pers.
Reaksi Media dan Saksi
Koresponden ABC News, Selina Wang, saat itu sedang merekam video untuk media sosial ketika penembakan terjadi. Dalam rekamannya, ia terdengar merunduk ke tanah sementara suara tembakan bergema. “Terdengar seperti puluhan tembakan,” tulisnya di X.
Sejauh ini, Dinas Rahasia (Secret Service) masih mengumpulkan informasi terkait insiden tersebut. Seorang juru bicara Secret Service menyampaikan kepada AFP melalui pesan teks bahwa badan tersebut masih mendalami kejadian ini.
Belum ada pernyataan resmi mengenai jumlah korban atau penyebab pasti penembakan. Pihak berwenang terus melakukan penyelidikan di lokasi kejadian.



