Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kota Palu dan sekitarnya pada Selasa, 16 Juni 2026, menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan satu warga meninggal dunia di Kabupaten Sigi, sementara 38 warga lainnya mengalami luka-luka.
Korban Jiwa dan Luka
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa satu korban meninggal berasal dari Kabupaten Sigi. Hingga pukul 19.00 WIB, tercatat 25 warga mengalami luka ringan dan 13 warga menderita luka berat. Proses pendataan masih berlangsung dan jumlah korban diperkirakan dapat bertambah.
Di Kabupaten Sigi, selain satu korban meninggal, terdapat 22 warga luka ringan dan 13 luka berat. Sementara itu, di Kabupaten Parigi Moutong tercatat 21 kepala keluarga atau 40 jiwa terdampak. Di Kota Palu, dua warga dilaporkan luka ringan, dan di Kabupaten Poso satu warga mengalami luka yang masih dalam pendataan.
Dampak pada Bangunan
Gempa juga menyebabkan kerusakan pada puluhan bangunan. Data sementara mencatat sedikitnya 67 unit rumah terdampak, terdiri dari 26 rumah rusak ringan, 6 rumah rusak sedang, dan 12 rumah rusak berat. Selain rumah, kerusakan melanda enam fasilitas ibadah, dua jembatan, satu fasilitas umum, dua gedung perkantoran, tiga tempat usaha, dan satu ruas jalan provinsi penghubung Palu-Sigi-Poso yang mengalami amblas.
Kabupaten Sigi menjadi wilayah dengan kerusakan terbanyak, yakni 47 unit rumah terdampak, termasuk 23 rusak ringan, 6 rusak sedang, dan 12 rusak berat. Di wilayah ini juga tercatat enam fasilitas ibadah, dua gedung perkantoran, satu jembatan, dan satu unit usaha mikro kecil menengah (UMKM) mengalami kerusakan.
Di Kabupaten Poso, lima unit rumah terdampak dengan tiga di antaranya rusak ringan. Kabupaten Parigi Moutong melaporkan 15 unit rumah terdampak. Sementara di Kota Palu, Jembatan III mengalami retak, satu fasilitas umum terdampak, satu hotel rusak, dan satu tempat usaha terkena dampak. Pendataan di Kabupaten Donggala masih berlangsung.
Penanganan Darurat
BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Tim Reaksi Cepat (TRC) terus melakukan kaji cepat dan pendataan di wilayah terdampak. Koordinasi dengan pemerintah daerah, kecamatan, desa, dan instansi terkait diperkuat untuk memastikan penanganan berjalan optimal.
Di Kabupaten Sigi, BPBD bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) telah menggelar rapat koordinasi penanganan darurat. Pemerintah Kabupaten Sigi sedang memproses penetapan status tanggap darurat selama 14 hari. Pos lapangan dipusatkan di Kantor Camat Nokilalaki untuk mempercepat koordinasi dan pelayanan kepada masyarakat.
Di Kabupaten Poso, BPBD bersama pemerintah daerah mendirikan tenda darurat di lingkungan RSUD Kabupaten Poso guna mendukung pelayanan kesehatan. Masyarakat bersama aparat kepolisian turut membersihkan puing-puing bangunan yang rusak.
"Aktivitas gempa susulan masih terus terjadi hingga sore hari. BNPB bersama BMKG dan pemerintah daerah terus memantau perkembangan serta mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, dan mengikuti arahan resmi," ujar Abdul Muhari.
BNPB akan terus menyampaikan perkembangan penanganan dampak gempa bumi di Sulawesi Tengah secara berkala seiring berlangsungnya pendataan dan penanganan di lapangan.



