Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi telah tiba di Teheran, Iran, untuk menjalani putaran baru perundingan yang mewakili Amerika Serikat. Kunjungan ini dilakukan dalam upaya mediasi konflik antara AS dan Iran yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.
Pertemuan dengan Menlu Iran
Naqvi dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi selama kunjungannya pada Sabtu (6/6). Kabar ini dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Tasnim. Selain itu, kantor berita Iranian Students' News Agency (ISNA) melaporkan bahwa Naqvi membawa surat dari Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Latar Belakang Perundingan
Putaran perundingan terbaru ini terjadi saat Pakistan berupaya memposisikan diri sebagai mediator regional setelah pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Iran. Sebelumnya, seorang pejabat militer senior Iran memperingatkan bahwa perang dengan AS tidak dapat dihindari jika negosiasi gagal.
Wakil Kepala Komando Militer Pusat Iran, Khatam al-Anbiya, Mohammed Jafar Assadi, menyatakan, "Amerika Serikat menuntut penyerahan diri total dari kita, dan bangsa Iran tidak akan pernah menyerah. Tanpa penyerahan diri, perang tidak bisa dihindari."
Gencatan Senjata dan Negosiasi
Perang antara Iran melawan AS dan Israel yang berkecamuk sejak akhir Februari terhenti sementara setelah gencatan senjata diberlakukan pada awal April. Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden Donald Trump. Meskipun diwarnai aksi saling serang, negosiasi terus berlangsung dengan mediasi Pakistan dan Qatar.
Negosiasi berjalan alot karena kedua pihak tetap bersikeras pada tuntutan masing-masing. Perkembangan terbaru, berdasarkan laporan media Barat seperti New York Times dan Axios, menyebutkan bahwa Trump telah mengirimkan versi revisi kerangka kerja perdamaian yang berisi persyaratan lebih keras untuk dipertimbangkan Iran.
Detail perubahan yang dilakukan Trump pada draf kesepakatan tidak diketahui secara jelas. Namun, setiap perubahan pada draf dapat semakin menunda kesepakatan untuk secara resmi mengakhiri perang.



