Dinas Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa serangan Israel telah menewaskan 10 orang. Sementara itu, militer Israel menyatakan bahwa salah satu korban tewas merupakan seorang komandan sel Hamas.
Serangan di Kota Gaza
Menurut laporan AFP pada Sabtu (6/6), serangan pesawat nirawak (drone) di Kota Gaza menewaskan delapan orang dan melukai 15 lainnya di kamp Jawazat, yang menampung warga terlantar. Informasi ini disampaikan oleh dinas pertahanan sipil, layanan penyelamatan yang beroperasi di bawah otoritas gerakan Islam Hamas.
Rumah Sakit Al-Shifa di kota tersebut juga melaporkan telah menerima delapan jenazah. Tentara Israel mengatakan kepada AFP, "Kami menargetkan teroris di sektor tersebut," tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Korban di Wilayah Selatan
Di wilayah yang lebih selatan, seorang pria berusia 25 tahun bernama Muhannad Othman Farwana dilaporkan tewas pada pagi hari akibat serangan ke sebuah tenda, menurut dinas pertahanan sipil. Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis menyatakan bahwa jenazah pria itu dibawa ke rumah sakit bersama beberapa korban luka.
Dalam sebuah pernyataan, tentara Israel mengatakan Farwana merupakan "komandan sel teroris di sayap militer" Hamas dan tewas dalam serangan presisi. Serangan tersebut menghantam tenda di atap rumahnya, sesaat sebelum ia dijadwalkan menikah pada hari itu, kata sepupunya, Mohammed Farwana.
"Seluruh keluarga sudah bersiap merayakan pernikahannya. Sekarang, kami justru menghadiri pemakamannya," ujarnya kepada AFP.
Korban Malam Hari
Pada malam hari, dinas pertahanan sipil kembali mengumumkan satu korban tewas akibat serangan Israel di tenggara Kota Gaza. Korban diidentifikasi sebagai pria berusia 37 tahun.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Israel dan Hamas saling menuduh melakukan pelanggaran yang hampir terjadi setiap hari terhadap gencatan senjata yang dimaksudkan untuk menghentikan perang di Gaza, yang dipicu oleh serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
Setidaknya 951 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang berada di bawah otoritas Hamas dan datanya dinilai dapat dipercaya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Militer Israel melaporkan lima personelnya tewas dalam periode yang sama.
Pembatasan terhadap media dan keterbatasan akses di Gaza membuat AFP tidak dapat memverifikasi secara independen jumlah korban maupun meliput kekerasan secara bebas.



