Mi Instan di Jepang dan Korsel Jadi Makanan Sehari-hari, Mengapa di Indonesia Dianggap Kurang Sehat?
Mi Instan Sehari-hari di Jepang dan Korsel, Kenapa di Indonesia Dianggap Tak Sehat?

Sepanjang Sabtu (6/6/2026) hingga Minggu (7/6/2026) pagi, beberapa artikel menjadi berita populer di kanal Tren. Salah satunya adalah perbedaan anggapan mengenai mi instan. Di Jepang dan Korea Selatan, mi instan menjadi makanan sehari-hari. Namun, mengapa di Indonesia mi instan dianggap kurang sehat jika dikonsumsi setiap hari?

Perbedaan Persepsi Mi Instan

Mi instan telah lama menjadi bagian dari budaya kuliner di berbagai negara. Di Jepang dan Korea Selatan, mi instan sering dikonsumsi sebagai menu utama sehari-hari, baik sebagai sarapan, makan siang, maupun makan malam. Namun, di Indonesia, mi instan kerap dianggap sebagai makanan yang tidak sehat jika dikonsumsi secara rutin.

Faktor Kandungan Gizi

Salah satu alasan utama adalah perbedaan kandungan gizi. Mi instan di Jepang dan Korea Selatan biasanya memiliki lebih banyak sayuran dan protein, serta lebih rendah lemak jenuh dan natrium. Sementara itu, mi instan di Indonesia cenderung lebih tinggi kalori, lemak, dan garam, serta kurang serat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kebiasaan Konsumsi

Di Jepang dan Korea Selatan, mi instan sering disajikan dengan tambahan sayuran segar, telur, atau daging, sehingga lebih seimbang gizinya. Di Indonesia, mi instan sering dimakan hanya dengan bumbu dan sedikit lauk, sehingga nutrisinya kurang lengkap.

Berita Populer Lainnya

Selain mi instan, berita populer lainnya di kanal Tren adalah promo 6.6 di Indomaret, Alfamart, Lawson, dan beberapa supermarket lain. Promo ini menarik perhatian banyak pembaca karena menawarkan diskon besar-besaran.

Untuk informasi lebih lengkap, baca berita tanpa iklan dengan bergabung Kompas.com+.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga