Panas Ekstrem Eropa Tutup Tiga Reaktor Nuklir Prancis, 101 Juta Terdampak
Panas Ekstrem Eropa Tutup Tiga Reaktor Nuklir Prancis

Perusahaan listrik Prancis, EDF, mengumumkan penutupan dua reaktor nuklir tambahan akibat peningkatan suhu sungai yang membuat air pendingin yang dibuang melampaui batas lingkungan untuk melindungi ekosistem. Dengan demikian, total tiga reaktor nuklir di Prancis kini tidak beroperasi karena cuaca panas ekstrem. Suhu rata-rata di seluruh negeri bertengger di atas 35 derajat Celsius pada Kamis (25/06), menurut laporan kantor berita AFP.

Swiss Juga Terdampak, Pembangkit Beznau Dikurangi Operasionalnya

Masalah serupa terjadi di Swiss, yang mengurangi operasional pembangkit listrik tenaga nuklir Beznau. Pemerintah Swiss memperingatkan bahwa reaktor bisa ditutup sepenuhnya jika gelombang panas ekstrem terus berlangsung. Langkah ini diambil untuk menjaga keamanan lingkungan dan mematuhi regulasi suhu air sungai.

Ratusan Juta Orang Terdampak Panas Ekstrem

Setidaknya 101 juta orang di Eropa saat ini menghadapi panas ekstrem, dengan 50 juta di antaranya berada di Prancis dan 18 juta di Jerman. Lebih dari 380 juta orang, atau hampir dua pertiga populasi Eropa, harus bertahan dalam suhu di atas 30 derajat Celsius di berbagai wilayah. Angka ini mencakup 70 juta orang di Jerman, 63 juta di Prancis daratan, 48 juta di Italia, dan 38 juta di Inggris. Analisis ini didasarkan pada prakiraan badan meteorologi Jerman serta proyeksi populasi tahun 2025 dari Joint Research Centre.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pada Rabu (24/06), badan meteorologi Jerman menyatakan bahwa 94 juta orang telah terdampak suhu di atas 35 derajat Celsius.

Malam Terpanas di Jerman Samai Rekor Sebelumnya

Suhu di Kota Bad Bergzabern, Jerman bagian barat, pada malam hingga Kamis (25/06) tercatat menyamai rekor panas 26,2 derajat Celsius yang sebelumnya terjadi pada tahun 2019 di negara bagian Rheinland-Pfalz, menurut data awal dari Dinas Meteorologi Jerman (DWD). Ahli meteorologi DWD, Jens Winninghoff, mengatakan kepada kantor berita DPA bahwa rekor lain, yaitu suhu tertinggi di bulan Juni di Jerman, berpotensi terpecahkan pada Jumat (26/06) seiring prakiraan panas ekstrem di wilayah barat dan barat daya negeri.

Ratusan Kematian di Spanyol Diduga Akibat Gelombang Panas

Gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian besar Eropa diduga ikut berkontribusi pada 212 kasus kematian di Spanyol antara Minggu (21/06) hingga Rabu (24/06), berdasarkan perkiraan kelebihan angka kematian (excess mortality) dari sistem pemantauan MoMo. Sistem ini mencatat jumlah kematian harian dan menganalisis kemungkinan penyebab lonjakan tersebut, termasuk faktor cuaca.

Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun 2025 tercatat 98 kematian tambahan saat Spanyol mengalami musim panas terpanas dalam sejarah. Sepanjang 16 Mei hingga 30 September tahun itu, total kematian terkait panas mencapai 3.832 kasus. Jumlah tersebut meningkat 87,6% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024, menurut data MoMo. Istilah "excess mortality" mengacu pada selisih antara jumlah kematian yang benar-benar terjadi dan jumlah yang seharusnya berdasarkan data rata-rata sebelumnya.

Spanyol termasuk salah satu negara Eropa yang paling terdampak perubahan iklim. Pekan ini, wilayah daratan Spanyol mencatat suhu rata-rata harian tertinggi sejak setidaknya 1950, yaitu gabungan rata-rata suhu tertinggi dan terendah dalam 24 jam, mencapai 28,08 derajat Celsius pada Senin (22/06) dan naik menjadi 28,17 derajat Celsius pada Selasa (23/06). Sebagian besar peringatan cuaca telah dicabut pada Kamis (25/06), meski peringatan level kuning (terendah) masih diberlakukan di wilayah utara.

Kenapa Banyak Orang Jerman Tidak Pakai AC?

Di negara seperti Amerika Serikat, Australia, dan Jepang, musim panas yang panas dan lembap biasanya diatasi dengan pendingin udara (AC). Namun di banyak wilayah Eropa, solusi yang digunakan cenderung sederhana, seperti menutup tirai, menyalakan kipas, dan menjaga persediaan air dingin. Sekitar 90% penduduk di Amerika Serikat memiliki AC di rumah, menurut Departemen Energi AS. Di Eropa, yang memiliki iklim serupa, angkanya hanya sekitar 20%, meskipun berbeda-beda di tiap negara. Di Spanyol yang lebih panas dan cerah, sekitar setengah rumah tangga memiliki pendingin udara, sementara di Jerman hanya sekitar 6%. Alasan yang jelas: hingga beberapa waktu lalu, AC tidak dianggap sebagai kebutuhan penting di banyak negara Eropa, terutama di wilayah utara.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga