Prancis Perluas Arsenal Nuklir, Rusia Beri Ancaman Keras ke Eropa
Prancis Tambah Hulu Ledak Nuklir, Rusia Ancam Eropa

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan bahwa negaranya akan memperluas jumlah hulu ledak nuklir yang dimiliki. Rencana ini langsung mendapatkan respons keras dari Rusia.

Pernyataan Macron

Dalam kunjungannya ke pangkalan militer L'Ile Longue, lokasi penyimpanan kapal selam nuklir Prancis, Macron menyatakan bahwa pembaruan senjata nuklir sangat penting di tengah situasi geopolitik yang tidak stabil. Prancis merupakan satu-satunya negara di Uni Eropa yang memiliki senjata nuklir.

"Pembaruan arsenal kami adalah hal yang penting. Saat ini kita berada dalam situasi geopolitik yang penuh gejolak dan risiko. Itulah sebabnya saya memerintahkan penambahan jumlah hulu ledak nuklir dalam arsenal kami," ujar Macron, seperti dikutip dari Deutsche Welle (DW), 3 Maret 2025.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ia juga menegaskan, "Siapa pun yang ingin bebas harus ditakuti. Siapa pun yang ingin ditakuti harus kuat."

Diskusi dengan Negara Mitra

Macron juga menyampaikan kemungkinan Prancis mengizinkan negara-negara mitra Eropa untuk menampung pesawat-pesawatnya yang mampu membawa senjata nuklir. Pemerintah Prancis saat ini tengah membahas pengaturan tersebut dengan Inggris, Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, dan Denmark.

Reaksi Keras Rusia

Pemerintah Rusia bereaksi keras terhadap rencana tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Grushko memperingatkan bahwa negara-negara Eropa yang menerima penempatan pesawat pengebom strategis Prancis akan menjadi target serangan pasukan Rusia jika terjadi konflik.

"Jelas, militer kita akan dipaksa untuk memperhatikan masalah ini dengan saksama dalam konteks memperbarui daftar target prioritas jika terjadi konflik besar," kata Grushko kepada media pemerintah Russia Today.

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari "peningkatan yang tidak terkendali" potensi nuklir NATO yang menimbulkan ancaman strategis bagi Rusia.

"Akibatnya, alih-alih penguatan pertahanan sekutu yang dinyatakan Prancis -- yang kebetulan, tidak mereka berikan jaminan yang pasti -- keamanan negara-negara ini justru melemah," imbuh Grushko.

Latar Belakang Keputusan Prancis

Saat ini, Prancis memiliki sekitar 290 hulu ledak nuklir, menjadikannya kekuatan nuklir terbesar keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Rusia, dan Cina. Macron tidak merinci berapa banyak tambahan hulu ledak yang akan diproduksi.

Prancis memiliki empat kapal selam bersenjata nuklir yang mampu beroperasi secara tersembunyi dengan jangkauan sekitar 10.000 kilometer, serta jet tempur Rafale yang dapat meluncurkan rudal jelajah berhulu ledak nuklir sejauh 500 kilometer.

Keputusan ini muncul di tengah kekhawatiran negara-negara Eropa tentang keandalan "payung nuklir" Amerika Serikat, terutama setelah Presiden AS Donald Trump sempat ingin mengambil alih Greenland, wilayah milik Denmark yang juga anggota Uni Eropa dan NATO. Meskipun sikap itu berubah, banyak negara Eropa mulai meragukan arah kebijakan Washington ke depan.

Kanselir Jerman Friedrich Merz juga menyatakan bahwa pesawat Angkatan Udara Jerman bisa digunakan untuk mengangkut bom nuklir milik Prancis. Prancis terakhir kali menambah jumlah senjata nuklirnya pada tahun 1992.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga