Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), secara resmi mengutuk serangan yang dilancarkan Iran terhadap Bahrain dan Kuwait. Dalam pernyataan resminya, MBS secara khusus menyatakan dukungan penuh terhadap langkah-langkah yang diambil Bahrain untuk mempertahankan keamanan dan kedaulatan wilayahnya.
Pernyataan Melalui Telepon
Seperti dilaporkan Al Arabiya pada Jumat (5/6/2026), MBS menyampaikan kecaman tersebut saat berbicara melalui telepon dengan Raja Bahrain, Hamad bin Isa Al Khalifa, pada Kamis (4/6) waktu setempat. Dalam percakapan tersebut, MBS menegaskan kembali dukungan dan solidaritas penuh Arab Saudi terhadap Bahrain, serta mendukung setiap langkah yang diambil untuk membela keamanan dan stabilitas Bahrain.
Laporan dari kantor berita Saudi Press Agency (SPA) mengonfirmasi isi pembicaraan tersebut. MBS juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas kawasan Teluk.
Kecaman Kemenlu Saudi
Sebelumnya, pada Rabu (3/6), Kementerian Luar Negeri Arab Saudi telah mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam serangan Iran terhadap Bahrain dan Kuwait. Otoritas Riyadh memperingatkan bahwa tindakan Iran tersebut merusak upaya-upaya pemulihan stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, Kemenlu Saudi menyatakan: "Arab Saudi mengutuk keras agresi brutal Iran dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Bahrain dan Kuwait." Mereka juga menegaskan penolakan tegas terhadap serangan yang membahayakan kedaulatan negara-negara Teluk dan melemahkan upaya internasional untuk memulihkan keamanan dan stabilitas kawasan.
Solidaritas dengan Bahrain dan Kuwait
Pernyataan Kemenlu Saudi juga menegaskan kembali solidaritas Kerajaan Saudi dengan Bahrain dan Kuwait. Arab Saudi menyatakan dukungannya terhadap setiap langkah yang diambil kedua negara untuk menjaga kedaulatan, keamanan, dan stabilitas mereka.
Kecaman ini muncul setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa pasukannya telah meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap markas Armada Kelima Amerika Serikat di Bahrain, pangkalan Angkatan Udara AS di Kuwait, serta aset militer AS lainnya di Teluk Persia. IRGC menyebut serangan itu sebagai pembalasan atas serangan AS terhadap kapal tanker Iran di Teluk Oman dan serangan terhadap menara komunikasi di Pulau Qeshm, Iran selatan.
Namun, IRGC membantah bertanggung jawab atas serangan rudal ke Bandara Internasional Kuwait di Kuwait City. Mereka menyalahkan insiden tersebut pada rudal pencegat Patriot milik AS.



