Raul Castro Didakwa AS: Ini Sosok di Balik Bayang-Bayang Fidel
Raul Castro Didakwa AS: Sosok di Balik Bayang Fidel

Raul Castro Didakwa Amerika Serikat

Amerika Serikat secara resmi mendakwa mantan presiden Kuba, Raul Castro, yang kini berusia 94 tahun, dengan tuduhan pembunuhan. Dakwaan ini berkaitan dengan peran sentralnya dalam insiden penembakan dua pesawat ringan milik organisasi pengasingan Hermanos al Rescate pada 24 Februari 1996. Peristiwa tersebut menewaskan empat orang dan memicu salah satu krisis terbesar dalam hubungan bilateral Kuba dan Amerika Serikat.

Dakwaan dan Konsekuensi Hukum

Raul Castro menghadapi empat dakwaan pembunuhan, serta konspirasi untuk membunuh warga negara AS dan penghancuran pesawat. Pengumuman ini disampaikan oleh Jaksa Agung sementara AS, Todd Blanche. Kasus ini memiliki signifikansi besar, tidak hanya karena preseden penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Januari lalu, tetapi juga karena peran sentral Raul Castro dalam sejarah kontemporer Kuba.

Peran Raul dalam Sejarah Kuba

Meskipun Raul selalu berada di bawah bayang-bayang kakaknya, Fidel Castro, ia merupakan figur penting dalam aparat militer dan intelijen rezim. Puncak kekuasaannya terjadi ketika ia mengambil alih kepemimpinan secara resmi pada 2008 dan memimpin negara selama satu dekade. Pada 2018, Raul menyerahkan jabatan presiden kepada Miguel Diaz-Canel, dan tiga tahun kemudian menyerahkan kepemimpinan Partai Komunis. Namun, para analis meyakini Raul tetap menjadi orang paling berkuasa dalam struktur kekuasaan Kuba.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Krisis Ekonomi dan Energi di Kuba

Dakwaan AS terhadap Raul Castro terjadi pada salah satu momen paling rapuh di Kuba. Negara itu tengah mengalami krisis ekonomi dan energi yang parah, ditandai dengan pemadaman listrik dan kekurangan bahan bakar. Kondisi ini diperparah oleh tekanan dari pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat. Di sisi lain, otoritas Amerika dan Kuba, termasuk tokoh-tokoh yang dekat dengan Raul Castro, telah mengadakan pertemuan diam-diam di Havana untuk membahas masa depan negara tersebut.

Kehidupan Pribadi Raul Castro

Pria yang telah berusia lebih dari 90 tahun ini dikenal menjalani kehidupan keluarga yang tradisional, berbeda dengan Fidel yang dikenal memiliki banyak hubungan asmara yang dirahasiakan. Raul Castro menikah dengan Vilma Espin, seorang tokoh revolusioner terkemuka yang ia temui dalam gerilya yang menggulingkan rezim Batista. Vilma meninggal akibat kanker pada 2007. Pasangan itu memiliki empat anak, di antaranya Mariela Castro Espin, anggota Majelis Nasional Kekuasaan Rakyat dan Direktur Pusat Nasional Pendidikan Seksual (CENESEX), serta Alejandro Castro Espin, direktur intelijen dan kontra intelijen Keamanan Negara.

Kepemimpinan Pragmatis Raul

Raul membangun citra yang lebih abu-abu dan pragmatis, tanpa mengembangkan kultus kepribadian yang besar. Meskipun demikian, potret dirinya kerap terlihat tergantung di dinding, hampir selalu berdampingan dengan Fidel di kantor-kantor lembaga negara Kuba.

Presiden pada Era Reformasi dan Pencairan Hubungan dengan AS (2008-2018)

Meskipun sejak muda ikut serta dalam perjuangan revolusioner bersama Fidel dan Che Guevara, serta memainkan peran kunci dalam militer Kuba selama beberapa dekade, Raul Castro mencapai puncak pengaruhnya setelah mengambil alih kekuasaan antara 2006 dan 2008. Ia mewarisi jabatan presiden secara sementara pada 2006 setelah Fidel sakit parah, dan dua tahun kemudian secara resmi ditunjuk sebagai presiden Kuba. Berbeda dengan gaya karismatik dan ideologis Fidel, Raul menampilkan citra yang lebih pragmatis dan tidak terlalu gemar berpidato.

Selama masa pemerintahannya, ia mendorong reformasi ekonomi yang, meskipun sangat terbatas, merupakan yang terbesar sejak runtuhnya Uni Soviet. Pemerintahannya memperluas ruang bagi usaha kecil swasta, mengizinkan jual beli rumah dan kendaraan, melonggarkan beberapa pembatasan migrasi, dan mendorong pembukaan pasar secara terbatas. Ia juga mengurangi sebagian aparat negara yang berjumlah banyak dan mendorong bentuk-bentuk baru pekerjaan swasta. Reformasi tersebut berjalan berdampingan dengan kelanjutan sistem politik satu partai yang diberlakukan setelah revolusi 1959.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Di bawah kepemimpinan Raul Castro, organisasi internasional hak asasi manusia terus mengkritik kurangnya kebebasan berekspresi dan hak sipil serta politik, serta penindasan terhadap oposisi. Momen paling penting dalam masa kepresidenannya terjadi pada 2014, ketika ia bersama Presiden AS saat itu, Barack Obama, mengumumkan pencairan hubungan diplomatik antara Kuba dan Amerika Serikat setelah lebih dari setengah abad bermusuhan. Momen bersejarah ini dilanjutkan dengan pembukaan kembali kedutaan, peningkatan hubungan transportasi kedua negara, kontak antara kedua negara, serta kunjungan Obama ke Havana pada 2016, sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sejak revolusi 1959.

Ketika Fidel Castro meninggal pada 2016, Raul memimpin penghormatan resmi. Ia mengumumkan kematian kakaknya di televisi, mengatur pemakaman kenegaraan, dan berjanji mempertahankan sistem sosialis. Namun, keterbukaan ekonomi dan politik berlangsung terbatas dan sebagian proses mulai dibalikkan setelah Donald Trump menjabat pada 2017, setahun sebelum Raul menyerahkan kekuasaan kepada Diaz-Canel.

Rekan Seperjuangan Fidel dan Che

Raul Castro lahir pada 3 Juni 1931 di Biran, wilayah timur Kuba, dalam keluarga berada dari pasangan Galicia Angel Castro dan Lina Ruz. Seperti saudaranya Fidel, Raul belajar di sekolah Katolik di Santiago de Cuba sebelum pindah ke Havana untuk melanjutkan pendidikan menengah dan universitas. Pada akhir 1940-an dan awal 1950-an, ia terlibat dalam gerakan protes melawan pemerintahan Carlos Pro Socarras dan kemudian melawan kediktatoran Fulgencio Batista (1952-1958). Berbeda dengan Fidel yang awalnya lebih dipengaruhi nasionalisme Kuba, Raul sejak awal menunjukkan simpati terhadap sosialisme Soviet. Ia bergabung dengan organisasi pemuda Partai Sosialis Rakyat dan menghadiri pertemuan-pertemuan di Eropa Timur. Pengalaman itu sangat mempengaruhi pandangan politiknya.

Keterlibatannya secara penuh dalam perjuangan revolusioner dimulai pada 1953 ketika ia bergabung dengan gerakan bersenjata yang dipimpin Fidel Castro. Pada usia 22 tahun, Raul ikut dalam serangan ke barak militer Moncada di Santiago de Cuba, operasi yang gagal namun kemudian menjadi salah satu mitos utama pendirian Revolusi Kuba. Setelah mendapat amnesti pada 1956, ia pergi bersama Fidel ke Meksiko, tempat mereka mempersiapkan ekspedisi kapal Granma bersama Ernesto "Che" Guevara. Pendaratan Granma menandai awal gerilya Sierra Maestra yang berakhir dengan jatuhnya Batista dan kemenangan revolusi pada 1 Januari 1959.

Jenderal di Balik Bayang-Bayang Fidel

Raul Castro dengan cepat menjadi salah satu figur paling berkuasa dalam rezim baru yang dipimpin Fidel sejak 1959. Pada tahun yang sama ia diangkat sebagai Menteri Angkatan Bersenjata Revolusioner, jabatan yang ia pegang hampir setengah abad. Dari posisi itu, ia membangun salah satu aparat militer dan intelijen paling kuat di Amerika Latin. Para ahli menggambarkannya sebagai tokoh yang menjamin stabilitas internal sistem dan tangan kanan Fidel Castro. Berbeda dengan kepemimpinan karismatik Fidel, Raul tidak banyak tersorot dan fokus pada kendali militer dan organisasi negara.

Dalam satu dekade pemerintahan Fidel, Raul berperan penting dalam memperkuat aliansi dengan Uni Soviet dan membentuk model politik Kuba yang terinspirasi rezim sosialis blok Timur. Ia juga dituduh oleh para eksil Kuba dan organisasi HAM sebagai salah satu tokoh paling keras dalam menindak musuh politik. Ketika Raul menjabat sebagai panglima Angkatan Bersenjata, dua pesawat tempur Kuba menembak jatuh dua pesawat ringan milik Hermanos al Rescate yang terbang di dekat perairan Kuba pada 24 Februari 1996. Serangan itu menewaskan empat orang. Pemerintah Kuba menyatakan pesawat itu melanggar wilayah udara, namun investigasi internasional menyatakan pesawat itu ditembak jatuh di wilayah udara internasional, sehingga memicu krisis diplomatik serius dengan AS. Dakwaan terhadap Raul yang diumumkan Washington baru-baru ini berpusat pada peristiwa tersebut. Rekaman yang terungkap beberapa tahun lalu memuat suara Raul Castro yang tampaknya memerintahkan tindakan terhadap pesawat, termasuk pernyataan "jatuhkan pesawat itu". Bukti ini bisa menjadi krusial dalam persidangan.

Kekuasaan Setelah Pensiun

Pada 2018, Raul secara resmi menyerahkan jabatan presiden kepada Miguel Diaz-Canel. Meskipun demikian, Raul tetap menjadi Sekretaris Pertama Partai Komunis Kuba, posisi paling berkuasa dalam rezim. Pada 2021, ia juga menyerahkan jabatan itu kepada Diaz-Canel. Hal tersebut dipandang sebagai penutup simbolis generasi revolusioner yang memimpin sejak 1959. Namun, para ahli menilai ia tetap memiliki pengaruh besar terhadap keputusan strategis negara, terutama dalam bidang militer, keamanan, dan hubungan dengan AS. Setelah pensiun, ia tetap tampil dalam acara penting rezim, seperti parade militer dan peringatan revolusioner.

Pada 11 Juli 2021, terjadi demonstrasi antipemerintah terbesar selama lebih dari enam dekade di Kuba. Pemerintah merespons dengan menangkap ribuan orang. Meskipun Diaz-Canel memimpin pemerintah, struktur keamanan yang dibangun selama puluhan tahun di bawah Raul disebut memainkan peran penting. Pada saat yang sama, Kuba memasuki krisis terparah sejak Periode Khusus tahun 1990-an. Pengetatan sanksi AS di bawah Donald Trump, dampak pandemi, penurunan pariwisata, dan krisis energi memperburuk kondisi ekonomi dan sosial serta memicu eksodus massal. Akibatnya, pulau tersebut kehilangan hingga 20% populasinya, menurut perkiraan. Lingkaran keluarga Raul Castro juga dianggap sebagai salah satu pusat pengaruh utama di Kuba, termasuk cucunya, Raul Guillermo Rodriguez Castro, yang dikenal sebagai "El Cangrejo". Penampilan publik terbaru Castro adalah pada parade 1 Mei, ketika ia mengenakan seragam militer dan mendampingi Diaz-Canel serta tokoh-tokoh lain rezim Kuba.