Sekjen NATO Dukung Serangan AS ke Iran: Sangat Diperlukan
Sekjen NATO Dukung Serangan AS ke Iran: Sangat Diperlukan

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyatakan bahwa serangan terbaru Amerika Serikat terhadap Iran merupakan langkah yang "sangat diperlukan" menyusul pelanggaran gencatan senjata oleh Iran. Pernyataan ini disampaikan Rutte di Ankara, Turki, menjelang pertemuan puncak para pemimpin NATO.

Serangan AS sebagai Respons atas Pelanggaran Gencatan Senjata

Militer AS melancarkan gelombang serangan terhadap target-target Iran pada Selasa (7/7/2026) waktu setempat. Serangan ini dipicu oleh insiden tiga kapal tanker yang dihantam di Selat Hormuz, yang ditudingkan kepada Iran. AS juga mencabut izin penjualan minyak Teheran sebagai bagian dari tekanan.

"Saya pikir itu mutlak diperlukan karena ketika ada gencatan senjata, dan Iran pada dasarnya melanggar gencatan senjata tersebut -- kita melihat apa yang terjadi kemarin dengan adanya serangan terhadap kapal-kapal -- menurut saya, sangatlah penting bagi AS untuk bereaksi dengan tegas," ujar Rutte kepada wartawan, seperti dilansir Reuters, Rabu (8/7/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pertemuan Puncak NATO dan Tekanan pada Trump

Dalam pertemuan puncak tersebut, para pemimpin Eropa berupaya meyakinkan Presiden AS Donald Trump untuk kembali berkomitmen pada aliansi militer NATO. Hal ini terjadi setelah Trump terlibat perselisihan dengan sekutu-sekutu NATO terkait perang Iran dan masalah Greenland.

Rutte menegaskan tidak perlu ada keraguan mengenai "komitmen penuh Amerika Serikat terhadap NATO", yang disebutnya juga berperan melindungi AS. Namun, ia juga menyampaikan harapan agar negara-negara Eropa dan Kanada menyetarakan tingkat pengeluaran pertahanan mereka dengan AS.

"Kabar baiknya adalah hal ini merupakan kemenangan besar hari ini. Ini adalah kekalahan bagi (Presiden Rusia Vladimir) Putin, dan kemenangan bagi Presiden Trump, bahwa negara-negara Eropa dan Kanada benar-benar melakukan hal tersebut," ujarnya.

Ketegangan di Selat Hormuz

Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran dituduh menyerang tiga kapal komersial dalam beberapa hari terakhir, termasuk kapal milik Qatar dan Arab Saudi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menolak tuduhan tersebut dan menegaskan komitmen Teheran untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Namun, Baghaei memperingatkan bahwa "kapal-kapal yang menggunakan rute (di Selat Hormuz) tanpa koordinasi dengan otoritas Iran, telah mengekspose diri mereka pada risiko."

Serangan Balasan Iran dan Eskalasi Militer

Secara terpisah, lembaga penyiaran Iran, IRIB, mengklaim bahwa kapal tanker Qatar menjadi sasaran setelah mengabaikan peringatan berulang dari pasukan Iran saat melintasi Selat Hormuz dengan dukungan Angkatan Laut AS. Komando Pusat AS (CENTCOM) merespons dengan melancarkan serangan ofensif terhadap lebih dari 80 target terkait Iran, termasuk sistem pertahanan udara, lokasi radar pesisir, dan lebih dari 60 kapal kecil milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

IRGC membalas dengan menyerang pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait. Diklaim oleh IRGC bahwa "Angkatan Laut dan Angkatan Udara IRGC melakukan operasi gabungan rudal dan drone, menyerang 85 fasilitas militer utama AS" di kedua negara itu dan menembak jatuh sebuah drone MQ-9.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga