Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengecam keras serangan Iran terhadap sebuah kapal kargo berbendera Singapura di Selat Hormuz. Dalam pernyataan yang diunggah di platform Truth Social miliknya pada Sabtu (27/6/2026), Trump menyebut serangan drone tersebut sebagai pelanggaran bodoh terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati.
Detail Serangan Drone di Selat Hormuz
Trump mengungkapkan bahwa salah satu drone Iran berhasil menghantam dek atas sebuah kapal kargo besar yang sangat mahal, sementara tiga drone lainnya berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan kapal. Serangan ini terjadi pada Kamis (25/6) waktu setempat, dan memaksa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menangguhkan sementara upaya evakuasi para pelaut dari kapal-kapal yang terjebak di jalur perairan strategis tersebut akibat konflik Timur Tengah yang berkepanjangan.
Kapal yang Diserang: Ever Lovely Berbendera Singapura
Empat sumber keamanan yang dikutip oleh Reuters mengidentifikasi kapal yang menjadi sasaran serangan sebagai Ever Lovely, sebuah kapal kontainer yang berbendera Singapura. Sumber-sumber tersebut menyebutkan bahwa kapal tersebut kemungkinan besar menjadi target serangan drone Iran. Hingga saat ini, Teheran belum secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, namun Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA), badan Iran yang mengatur lalu lintas di Selat Hormuz, mengeluarkan peringatan setelah insiden itu terjadi.
Peringatan dari Otoritas Selat Teluk Persia
Melalui media sosial X, PGSA menyatakan bahwa setiap perlintasan melalui rute di luar kerangka kerja yang ditetapkan oleh badan tersebut tidak akan tercakup dalam jaminan perlintasan yang aman. Pernyataan ini menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan navigasi di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.
Dampak terhadap Evakuasi Pelaut
Serangan ini memaksa PBB untuk menghentikan sementara operasi evakuasi terhadap sekitar 2.500 pelaut yang masih berada di kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Sebelumnya, sebanyak 115 kapal telah berhasil melintas sejak Selat Hormuz dibuka kembali untuk lalu lintas. Namun, dengan adanya serangan terbaru ini, upaya evakuasi menjadi semakin rumit dan berbahaya.
Reaksi Internasional
Trump menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati. Ia menyebut tindakan Iran sebagai bodoh dan tidak dapat diterima. Media-media terkemuka AS, termasuk New York Times, juga melaporkan insiden ini secara luas, menyoroti meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran mengenai klaim serangan tersebut. Namun, peringatan dari PGSA menunjukkan bahwa Iran mungkin akan memperketat kontrol terhadap lalu lintas di Selat Hormuz, yang dapat berdampak pada stabilitas pasokan energi global.



