Di Indonesia, biaya publikasi internasional yang terus meningkat menjadi jurang pemisah antara kampus besar dan kampus daerah. Di tengah ambisi Indonesia Emas 2045 untuk menjadi produsen pengetahuan global, akses terhadap jurnal bereputasi masih sangat ditentukan oleh kemampuan finansial.
Kesenjangan Akses Publikasi Ilmiah
Pertanyaan penting yang muncul bukan sekadar bagaimana publikasi dilakukan, melainkan siapa yang memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam percakapan ilmiah global. Jika hanya kampus dengan dana besar yang mampu membayar biaya publikasi, maka peta pengetahuan Indonesia akan terus terpusat di beberapa titik. Suara peneliti daerah akan tetap terpinggirkan, dan potensi riset dari berbagai wilayah tidak akan terdengar di kancah internasional.
Dampak pada Indonesia Emas 2045
Ambisi Indonesia Emas 2045 untuk menjadi produsen pengetahuan global membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh institusi pendidikan tinggi di tanah air. Namun, hambatan biaya publikasi yang tinggi menjadi kendala serius. Tanpa kebijakan yang mendukung pemerataan akses publikasi, kesenjangan antara kampus pusat dan daerah akan semakin lebar, dan target menjadi produsen pengetahuan global sulit tercapai.
Untuk itu, diperlukan solusi kolaboratif antara pemerintah, perguruan tinggi, dan penerbit jurnal agar biaya publikasi tidak lagi menjadi penghalang bagi peneliti daerah. Dengan demikian, Indonesia dapat mewujudkan ekosistem riset yang inklusif dan merata, serta memperkuat posisinya dalam percakapan ilmiah global.



