Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi untuk membahas anggaran dan sejumlah isu strategis. Dalam rapat tersebut, Ketua Komisi V DPR Lasarus menyoroti perkembangan integrasi sinyal kereta api pasca kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Desakan Integrasi Sinyal
Lasarus menekankan pentingnya penyelesaian integrasi persinyalan kereta api secara cepat. "Ada temuan yang menarik dan saya juga mendapat telepon dari sana-sini Pak Menteri terkait dengan integrasi persinyalan. Ini saya harap nanti integrasi persinyalan bisa ditangani dengan cepat," ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Politikus PDIP itu mendesak agar integrasi sinyal segera dikerjakan. Jika Kementerian Perhubungan tidak sanggup, ia mengusulkan agar kewenangan tersebut dilimpahkan ke PT KAI. "Apakah kewenangan ini tetap dipegang Kemenhub, atau kalau tidak limpahkan saja ke PT KAI. Karena kemarin seperti yang kita sampaikan ada perintah dari selatan ke timur, dari selatan perintah ke timur, tapi timur tidak memerintahkan ke tempatnya kereta yang menabrak kereta berikutnya," jelas Lasarus.
Temuan KNKT
Lasarus mengungkapkan bahwa persoalan sinyal menjadi sorotan karena merupakan salah satu temuan paling signifikan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Ia juga menyoroti bahwa sinyal-sinyal yang ada tidak bisa terintegrasi karena perbedaan produk pengadaan. "Itu adalah temuan KNKT yang banyak kita bahas setelah selesai rapat. Saya dapat informasi juga, Pak Menteri, ini bukan zamannya bapak jadi menteri, pengadaan persinyalan ini teknologinya beda-beda, ada barang Jepang di situ, ada barang dari China di situ, ada yang dibuat oleh LEN sendiri, padahal kalau dibuat dari LEN ini katanya bolong-bolong sinyalnya," ujar Lasarus.
Usulan Pemisahan Regulator dan Operator
Lasarus juga menekankan perlunya pemisahan yang jelas antara operator dan regulator di perkeretaapian. "Belum terjadi pemisahan yang jelas antara operator dan regulator di kereta api ini. Saran saya, Pak Menteri, daripada ini menjadi beban, sudah operasional ini kita kasih aja kereta api saja semua yang ngurus, biar aja kereta api semua yang ngurus. Ini sangat gamblang," lanjutnya.
Kronologi Kecelakaan
Sebagaimana diketahui, KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. Peristiwa itu menyebabkan 16 orang meninggal dunia dan 90 lainnya luka-luka. Saat kecelakaan, taksi Green SM sempat terhenti di tengah rel kereta api yang tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur karena masalah korsleting, kemudian tertemper KRL yang melaju dari Cikarang ke arah Jakarta. KRL yang terlibat kecelakaan dengan taksi itu kemudian terhenti di tengah rel. Di sisi lain, ada KRL arah Cikarang yang terhenti di Stasiun Bekasi Timur imbas insiden antara KRL arah Jakarta dan taksi Green SM. KRL yang terhenti di Stasiun Bekasi Timur inilah yang kemudian ditabrak KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah Jakarta.



