Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) menegaskan komitmennya untuk memastikan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun 2026 berlangsung secara akuntabel. Hal ini disampaikan menyusul berbagai isu yang beredar di masyarakat mengenai potensi kecurangan dalam proses seleksi.
Transparansi Proses Seleksi
Ketua Panitia SNPMB, Prof. Dr. Ir. Bambang Suharto, M.Sc., dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (25/5/2026), menyatakan bahwa pihaknya telah menerapkan sistem yang ketat untuk menjaga integritas UTBK. "Kami menggunakan sistem pengawasan berlapis dan teknologi pengenalan wajah untuk memastikan peserta yang mengikuti ujian adalah orang yang sama dengan yang mendaftar," ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Bambang mengungkapkan bahwa banyak anak rektor dari berbagai perguruan tinggi negeri yang tidak lolos seleksi UTBK SNBT 2026. "Fakta ini menunjukkan bahwa tidak ada perlakuan khusus bagi siapa pun, termasuk keluarga pejabat kampus. Semua peserta dinilai berdasarkan kemampuan akademik mereka," tegasnya.
Data dan Fakta di Lapangan
Berdasarkan data yang dirilis panitia, dari total 1,2 juta peserta UTBK SNBT 2026, hanya sekitar 200 ribu yang dinyatakan lolos. Angka ini menunjukkan tingkat persaingan yang sangat ketat. "Kami memiliki data bahwa dari 150 anak rektor yang mendaftar, hanya 30 orang yang berhasil lolos. Ini membuktikan bahwa tidak ada intervensi dari pihak manapun," jelas Prof. Bambang.
Panitia juga bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengawasi proses seleksi. "Kami ingin memastikan tidak ada praktek suap atau kecurangan lainnya. Semua berjalan transparan dan dapat dipertanggungjawabkan," tambahnya.
Tanggapan Publik dan Pengamat
Pengamat pendidikan dari Universitas Indonesia, Dr. Dewi Lestari, menilai langkah panitia SNPMB patut diapresiasi. "Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menciptakan sistem seleksi yang adil. Anak rektor yang tidak lolos adalah bukti bahwa tidak ada titipan atau koneksi," ujarnya.
Namun, beberapa pihak masih meragukan efektivitas pengawasan. Seorang peserta UTBK yang enggan disebutkan namanya mengatakan, "Kami berharap benar-benar tidak ada kecurangan. Tapi kami juga butuh bukti lebih lanjut." Menanggapi hal ini, panitia berjanji akan membuka akses data nilai peserta secara publik setelah proses seleksi selesai.
Langkah Antisipasi ke Depan
Untuk tahun-tahun mendatang, SNPMB berencana meningkatkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam mendeteksi kecurangan. "Kami akan terus berinovasi agar UTBK semakin kredibel. Kepercayaan masyarakat adalah prioritas utama kami," pungkas Prof. Bambang.
Dengan berbagai upaya tersebut, diharapkan UTBK SNBT 2026 dapat menjadi contoh bagi proses seleksi lainnya di Indonesia. Masyarakat pun diimbau untuk turut mengawasi dan melaporkan jika menemukan indikasi kecurangan.



