Pemimpin partai sayap kanan National Rally (RN), Marine Le Pen, secara resmi mengumumkan pencalonannya dalam pemilihan presiden Prancis untuk keempat kalinya. Pengumuman ini disampaikan dalam wawancara di stasiun televisi TF1 pada Selasa (7/7/2026) malam. Le Pen menggambarkan dirinya sebagai sosok yang mampu bertahan dari pertarungan hukum selama berbulan-bulan yang nyaris mengakhiri karier politiknya.
"Banyak rakyat Prancis yang sedang menghadapi kesulitan, dan kami juga mengalaminya. Saya percaya cobaan ini justru membuat kami semakin kuat," kata Le Pen dalam wawancara tersebut.
Putusan Banding Membuka Jalan
Hingga pekan ini, banyak pihak meyakini ambisi Le Pen menjadi presiden telah berakhir. Namun, Pengadilan Banding Paris pada hari Selasa memangkas masa larangan politik yang dijatuhkan dalam kasus penyalahgunaan dana Parlemen Eropa untuk membayar staf partainya di Prancis. Putusan itu tetap menyatakan Le Pen bersalah, tetapi sekaligus membuka jalan baginya untuk maju dalam pemilihan presiden 2027. Le Pen mengatakan akan mengajukan kasasi atas vonis tersebut sembari tetap mengikuti kontestasi menuju Istana Élysee.
Keputusan Le Pen untuk maju dinilai sebagai pertaruhan besar. Selain masih menunggu putusan Mahkamah Kasasi, dia juga harus menguji apakah pemilih Prancis mau memilih seorang kandidat yang sudah dua kali divonis bersalah dalam perkara penggelapan dana. Namun Le Pen yakin risiko itu layak diambil. Dia percaya persoalan hukumnya tidak akan menghalangi pemilih untuk memilihnya sebagai pemimpin Prancis pada era modern, tulis AFP.
"Saya tidak pernah ingin memaksakan apa pun kepada rakyat Prancis. Mereka yang harus mengambil keputusan terakhir, dan kini merekalah yang akan menentukan," ujarnya.
Dukungan dari Sekutu
Brigitte Barèges, mantan anggota parlemen dari partai konservatif yang bersekutu dengan RN, mengatakan memahami keputusan Le Pen untuk tetap maju. "Saya mengenal karakternya, dan saya juga kurang lebih seperti itu. Anda ingin menunjukkan kepada orang-orang yang menjatuhkan Anda bahwa Anda belum selesai, bahwa Anda masih berdiri," katanya.
Keputusan Le Pen muncul ketika National Rally berada pada posisi terdekat menuju tampuk kekuasaan. Berbagai jajak pendapat menunjukkan Le Pen berpeluang besar lolos ke putaran kedua pemilihan presiden tahun depan, meski kemenangan akhirnya masih belum pasti.
Gelang Elektronik dan Pasangan Calon
Pencalonannya sempat menggantung sejak Maret 2025 ketika pengadilan menjatuhkan larangan berpolitik selama lima tahun. Namun putusan terbaru memungkinkan Le Pen untuk kembali berkampanye, meski oleh pengadilan tetap diwajibkan mengenakan gelang elektronik. Le Pen mengatakan yakin dapat mencalonkan diri tanpa harus memakai gelang elektronik yang membatasi ruang geraknya. Dia juga memastikan presiden National Rally yang berusia 30 tahun, Jordan Bardella, akan mendampinginya sebagai calon perdana menteri apabila dia memenangkan pemilihan.
Le Pen menepis anggapan Bardella kecewa. Sebelumnya, bintang baru kelompok kanan Prancis itu dipersiapkan sebagai calon presiden apabila Le Pen tetap dilarang maju. Bahkan, dalam sejumlah survei, popularitas Bardella kini melampaui mentornya itu. "Jordan Bardella dan saya berjuang untuk Prancis. Kami berjuang demi rakyat Prancis. Tujuan itu jauh lebih besar daripada ambisi pribadi kami," kata Le Pen.
Menurut Barèges, peluang RN meraih kemenangan justru lebih besar jika Le Pen dan Bardella tetap tampil sebagai pasangan politik. Selama beberapa tahun terakhir, keduanya membangun kombinasi antara energi politik generasi muda dan pengalaman panjang Le Pen, yang mengubah RN dari partai pinggiran menjadi kekuatan yang dipandang siap memerintah. "Kami menawarkan kepada rakyat Prancis sebuah kemitraan yang saling melengkapi, seimbang, konsisten, dan kokoh," ujar Le Pen.
Perbedaan Pandangan Ekonomi
Meski Le Pen dan Bardella menampilkan citra kompak, perbedaan pandangan mulai terlihat, terutama dalam kebijakan ekonomi. Utamanya karena RN dinilai belum memiliki strategi ekonomi yang meyakinkan untuk mengatasi tingginya utang publik dan lemahnya pertumbuhan ekonomi Prancis. Di tengah persoalan hukum yang dihadapi Le Pen, Bardella mulai mendorong pendekatan yang lebih pro-pasar, termasuk dalam isu reformasi pensiun. Hal itu memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana RN dapat memperluas dukungan dari kalangan konservatif pro-bisnis tanpa kehilangan basis pemilih kelas pekerja.
Salah satu persoalan yang belum terselesaikan adalah apakah RN akan tetap mempertahankan janji menurunkan kembali usia pensiun menjadi 62 tahun atau meninggalkan kebijakan yang mulai dianggap terlalu mahal oleh sebagian petinggi partai. Seorang pejabat senior RN mengakui sejumlah isu kebijakan utama, termasuk pensiun dan perpajakan, masih belum diputuskan sehingga partai harus segera menentukan arah.
Prasyarat Kekuasaan
Ilmuwan politik Universitas Sciences Po, Gilles Ivaldi, mengatakan kemampuan RN menyelesaikan perbedaan pandangan mengenai agenda ekonominya akan menjadi faktor penting bagi peluang partai itu merebut kekuasaan. "Untuk memerintah dan memperoleh mayoritas di parlemen, RN pada akhirnya harus memenangkan pemilih sayap kanan dan, pada titik tertentu, mencapai kompromi dengan kelompok kanan arus utama," ujarnya. "Aliansi luas di antara kekuatan-kekuatan sayap kanan merupakan prasyarat bagi RN untuk merebut kekuasaan."



