Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris dengan tegas menolak usulan agar penderita tuberkulosis (TBC) dimasukkan sebagai penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, usulan tersebut tidak masuk akal dan tidak realistis jika ditinjau dari aspek teknis pelaksanaan di lapangan.
Kendala Teknis Distribusi MBG untuk Penderita TBC
Charles menjelaskan bahwa secara teknis, akan sangat sulit untuk memastikan setiap penderita TBC berada dalam jangkauan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan MBG. "Belum tentu di dekat tempat penderita TBC itu tinggal ada dapur SPPG," ujarnya di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (24/6). Ia menambahkan bahwa akan lebih tepat jika intervensi gizi bagi penderita TBC dilakukan melalui cara lain yang lebih terarah.
Puskesmas sebagai Alternatif Intervensi Gizi
Politikus PDI Perjuangan itu menekankan bahwa tidak semua hal harus dikaitkan dengan program MBG. Ia menyarankan pemanfaatan Puskesmas yang tersebar di setiap kecamatan hingga kelurahan sebagai sarana yang lebih memungkinkan untuk membantu penderita TBC. "Memanfaatkan Puskesmas untuk bisa membantu penderita TBC mendapatkan apa yang mereka butuhkan, baik dari sisi obat-obatan maupun intervensi gizi kalau memang dibutuhkan. Tetapi untuk memberikan MBG kepada penderita TBC saya rasa ini sesuatu yang sangat tidak realistis," tegas Charles.
Risiko Penularan Melalui Wadah Makanan MBG
Charles juga menyoroti risiko penularan TBC yang tinggi. Ia mempertanyakan apakah wadah makanan (ompreng) yang digunakan dalam program MBG dapat digunakan kembali setelah dipakai oleh penderita TBC. "TBC adalah penyakit yang sangat menular, sehingga ompreng yang dipakai itu apakah nanti dikembalikan ke SPPG dan digunakan kembali atau nanti malah bisa menularkan kepada penerima manfaat lainnya yang bukan penderita TBC. Jadi ini wacana yang menurut saya tidak masuk akal dan ya mudah-mudahan Pak Menkes hanya bercanda lah ketika menyampaikan wacana ini," katanya.
Usulan Menkes: Dukungan Gizi untuk Percepatan Pemulihan
Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengusulkan penderita TBC menjadi salah satu penerima manfaat MBG. Menurutnya, penderita TBC memiliki daya tahan tubuh yang lemah sehingga asupan makanan bergizi akan mempercepat proses pemulihan. "Dari hasil penelitian jurnal-jurnal internasional dan sudah diterapkan juga di India dan China, orang yang penderita TBC diobati kan selama 6 bulan sampai 12 bulan. Itu daya tahan kondisi fisiknya itu lemah, sehingga kalau dia bisa mendapatkan asupan gizi yang cukup atau sedikit lebih, itu akan memperkuat dan mempercepat pemulihannya," jelas Budi di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (23/6).
Data Kematian Akibat TBC dan Diskusi dengan Kepala BGN
Budi juga mengungkapkan data bahwa sekitar 126 ribu orang meninggal karena TBC di Indonesia. Ia mengaku telah mendiskusikan usul tersebut dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang. "Jadi kita ngomong 5 menit yang meninggal 2, di Indonesia TBC. Itu sebabnya kemarin saya bicara dengan Ibu Nanik kan ingin meningkatkan, memfokuskan penyaluran MBG targetnya ke siapa aja. Dia nanya ke saya kan, saya bilang, Bu, MBG itu sangat membantu saya memecahkan masalah kesehatan," katanya.



