Warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza bagian tengah menggunakan hak suara mereka dalam pemilihan dewan kota pada Sabtu, 25 April 2026. Ini merupakan pemilu pertama sejak perang Gaza dimulai pada tahun 2023. Partisipasi pemilih dalam pemilu ini tidak setinggi pemilu sebelumnya pada 2022.
Partisipasi Pemilih di Tepi Barat
Menurut laporan AFP, jumlah kandidat yang terbatas menyebabkan tingkat partisipasi awal yang rendah di Tepi Barat yang diduduki, di mana sekitar 1,5 juta orang terdaftar sebagai pemilih. Namun, partisipasi meningkat pada menit-menit terakhir hingga mencapai 53,44 persen, menurut Komisi Pemilihan Pusat (CEC) yang berbasis di Ramallah. Angka ini hanya sedikit lebih rendah dibanding pemilu sebelumnya pada Maret 2022.
Partisipasi di Gaza
Sementara itu, di Deir el-Balah, Gaza, partisipasi tergolong rendah dengan hanya 22,7 persen dari 70.000 pemilih terdaftar yang menggunakan hak suaranya. Kondisi perang yang masih berlangsung menjadi faktor utama rendahnya partisipasi di wilayah tersebut.
Pernyataan Presiden Mahmud Abbas
Presiden Mahmud Abbas menyatakan kegembiraannya atas terselenggaranya demokrasi meskipun menghadapi banyak tantangan. Ia menyampaikan hal tersebut kepada wartawan usai memberikan suara di Al-Bireh, seperti dilaporkan kantor berita Palestina, Wafa.
Pandangan Warga
Sejumlah warga menyampaikan harapan mereka terhadap pemilu ini. Manar Salman, seorang guru bahasa Inggris di Jericho, mengatakan, "Kami akan memilih seseorang yang bisa memperbaiki komunitas lokal... hal-hal seperti air dan perbaikan jalan." Ia menambahkan, "Kami tidak menerima banyak dukungan dari luar, dan pendudukan memengaruhi kami dalam banyak hal... ini membatasi apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah kota."
Namun, sebagian warga mempertanyakan waktu pelaksanaan pemilu. Ziad Hassan, seorang pengusaha dari desa Dura Al-Qaraa, mengungkapkan, "Kami tidak menginginkan pemilu saat ini-di tengah perang di Gaza dan serangan pemukim yang terus berlangsung di Tepi Barat. Keputusan ini dipaksakan kepada kami."
Serangan pemukim terhadap warga Palestina di Tepi Barat meningkat sejak dimulainya perang Gaza pada Oktober 2023. Abed Jabaieh (68), mantan kepala desa Ramun, menekankan, "Hal utama adalah keamanan dari para pemukim. Karena itu kami membutuhkan wajah-wajah baru, anak muda yang bersedia memperjuangkan hak-hak kami."
Pemilu ini diawasi oleh diplomat asing yang memantau jalannya proses pemungutan suara. Meskipun partisipasi tidak setinggi sebelumnya, pemilu ini tetap menjadi langkah penting bagi demokrasi Palestina di tengah konflik yang berkepanjangan.



