Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh 419 drone Ukraina di seluruh wilayah Rusia dalam satu malam. Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi kampanye drone jarak jauh Ukraina yang menargetkan infrastruktur energi Rusia, terutama kilang minyak dan fasilitas vital lainnya, untuk menekan sumber pendanaan perang Kremlin.
Pertahanan Udara Rusia Gempur 419 Drone
Dalam pernyataan yang dirilis melalui platform Max pada Selasa (30/6/2026), Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa pertahanan udara berhasil mencegat dan menghancurkan 419 drone Ukraina di berbagai daerah. Tidak disebutkan adanya korban jiwa atau kerusakan signifikan akibat serangan tersebut.
Wali Kota Moskow, Sergey Sobyanin, juga mengonfirmasi bahwa sebanyak 50 drone musuh yang menuju ibu kota Rusia berhasil ditembak jatuh dalam semalam. Ini menunjukkan bahwa Moskow tetap menjadi salah satu target utama serangan Ukraina.
Eskalasi Serangan Drone Ukraina
Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Rusia mengklaim menembak jatuh 660 drone Ukraina antara Kamis dan Jumat pekan lalu, yang merupakan salah satu angka tertinggi sejak perang dimulai. Ukraina terus meningkatkan intensitas serangan drone jarak jauh dalam beberapa bulan terakhir, khususnya menyasar infrastruktur energi Rusia.
Serangan pekan lalu juga menyebabkan kebakaran di sebuah kilang minyak di tenggara Moskow, menunjukkan bahwa Ukraina mampu menembus pertahanan udara Rusia dan mencapai target strategis. Perang kedua negara kini telah memasuki tahun kelima tanpa tanda-tanda mereda.
Dampak dan Respons
Meskipun Rusia mengklaim berhasil menembak jatuh sebagian besar drone, serangan ini tetap menimbulkan kekhawatiran akan keamanan infrastruktur energi dan sipil. Belum ada pernyataan resmi dari Ukraina mengenai serangan tersebut, namun Kyiv sebelumnya menyatakan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi Rusia bertujuan untuk melemahkan kemampuan Kremlin membiayai perang.
Konflik yang berkepanjangan ini terus menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di kedua sisi. Masyarakat internasional masih menanti langkah-langkah diplomasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.



