Berkurban Tanpa Memandang Perbedaan di Pulau Buru
Berkurban Tanpa Memandang Perbedaan di Pulau Buru

Lima puluh tahun lalu, Pulau Buru di Maluku identik dengan kisah kelam sebagai tempat pembuangan tahanan politik Orde Baru. Kini, pulau itu berubah menjadi contoh harmoni dan toleransi. Setiap hari besar keagamaan, seperti Idul Adha, dirayakan bersama oleh seluruh warga tanpa memandang perbedaan.

Perjalanan Menuju Desa Wamana Baru

Rintik hujan mengiringi perjalanan menuju Desa Wamana Baru di Kecamatan Fena Leisela, Kabupaten Pulau Buru. Mobil berhenti di tepi Sungai Waigereng yang menjadi pemisah antara Desa Wamana Lama dan Wamana Baru. Sungai dengan air jernih itu hanya bisa diseberangi dengan rakit kaleng buatan warga. Dalam satu menit, rakit mengantarkan pengunjung ke desa seberang.

Sesampainya di bibir sungai, gema takbir menyambut Idul Adha terdengar sayup. Suasana malam yang syahdu menambah kekhusyukan. Warga setempat menyambut rombongan dengan kabar gembira: esok hari akan ada pemotongan hewan kurban.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Perjalanan menuju perkampungan memakan waktu 20 menit dengan sepeda motor atau 40-45 menit berjalan kaki. Jalanan belum sepenuhnya aspal, dan lampu jalan sangat minim. Penerangan hanya berasal dari rumah-rumah penduduk yang baru menikmati listrik tiga tahun terakhir.

Kehidupan Sederhana di Kampung Terpencil

Mama Anita, seorang pendatang yang mengikuti suaminya, menyambut hangat. Ia menceritakan bahwa di Desa Wamana Baru, malam takbiran Idul Adha tidak semeriah Idul Fitri. Anak-anak lebih banyak berada di rumah karena jaringan telekomunikasi belum merata. Untuk mendapatkan sinyal, warga harus naik ke perkampungan yang lebih tinggi atau membeli paket internet.

"Ya beginilah hari-hari kami, sesekali main HP ada, tapi lebih banyak kami ngobrol, anak-anak lari-larian sampai sore, atau main bola. Itu sudah begitu setiap hari," ujar Anita.

Dahulu, Kampung Wamana dikenal sebagai kampung adat yang penduduknya menganut animisme. Namun, seiring kedatangan pendatang, kampung ini berubah menjadi Wamana Baru yang kini mayoritas muslim, meski masih ada warga Kristen dan animisme.

Kurban sebagai Perekat Sosial

Sejak tahun 2022, Dompet Dhuafa rutin menyalurkan hewan kurban ke desa ini. Tahun ini, tiga ekor sapi dikurbankan: dua dari Dompet Dhuafa dan satu dari pemilik pondok pesantren. Proses penyembelihan dilakukan setelah salat Idul Adha dan selesai dalam waktu kurang dari satu jam berkat gotong royong warga, termasuk yang nonmuslim.

"Alhamdulillah di sini kekeluargaan kita luar biasa, gotong royong. Tadi yang bukan muslim pun ikut membantu penyembelihan. Jadi kita di sini berkurban tanpa membeda-bedakan," kata Gusti Waemese, panitia kurban.

Daging kurban dibagikan merata ke seluruh rumah, termasuk warga nonmuslim dan mualaf. Berbeda dengan kebiasaan umum, tidak ada kegiatan memasak bersama. Daging langsung dibagikan dan diolah di masing-masing rumah.

Harapan untuk Masa Depan

Warga berharap jumlah hewan kurban terus meningkat sehingga lebih dari 400 kepala keluarga di tiga dusun dapat merasakan indahnya berkurban tanpa diskriminasi. Sementara itu, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Maluku, La Januri, menyatakan bahwa tahun ini total hewan kurban yang disalurkan mencapai 10 kambing dan 180 sapi. Ia mengakui masih ada daerah pedalaman yang belum terjangkau. "Kalau bicara ideal, mungkin butuh 100 ekor untuk masyarakat pedalaman," ujarnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga