Tepat 125 tahun kelahiran Soekarno, 6 Juni 2026, rangkaian tulisan ini mengajak pembaca meninjau kembali perjalanan hidup proklamator Bung Karno yang terus mewarnai dinamika Indonesia.
Bangunan berkelir hijau di Jalan Peneleh Gang VII, Surabaya, kini berdiri sebagai ruang penanda sejarah. Namun sekitar satu abad silam, seorang remaja bernama Sukarno ditempa oleh HOS Tjokroaminoto.
Bagi Sukarno muda, Tjokroaminoto bukan sekadar pengajar yang mewariskan pengetahuan. Ia adalah teladan hidup. "Pak Tjokro mengajarku tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa yang ia ketahui ataupun tentang apa jadiku kelak. Seorang tokoh yang mempunyai daya cipta dan cita-cita tinggi, seorang pejuang yang mencintai tanah tumpah darahnya. Pak Tjokro adalah pujaanku. Aku muridnya," kata Sukarno dalam autobiografinya yang disusun oleh Cindy Adams 'Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat'.
Sukarno muda tahu ia sedang ditempa. Tjokroaminoto memberinya akses kepada buku-buku yang paling berharga yang dimilikinya. Bukan bermain, seluruh waktunya digunakan untuk membaca, larut dalam perenungan dan dialog batin dengan gagasan-gagasan yang ditemuinya. "Secara mental aku berbicara dengan Thomas Jefferson. Aku merasa dekat dan bersahabat dengan dia karena dia bercerita kepadaku tentang Declaration of Independence yang ditulisnya pada tahun 1776. Aku memperbincangkan persoalan George Washington dengan dia. Aku mendalami lagi perjalanan Paul Revere. Aku dengan sengaja mencari kesalahan-kesalahan dalam kehidupan Abraham Lincoln sehingga aku dapat mempersoalkan hal ini dengan dia," kata Sukarno.
"Di dalam dunia pemikiranku aku pun berbicara dengan Gladstone dari Britania, ditambah dengan Sidney dan Beatrice Webb yang mendirikan Gerakan Buruh Inggris. Aku berhadapan muka dengan Mazzini, Cavour, dan Garibaldi dari Italia. Aku berhadapan dengan Otto Bauer dan Adler dari Austria," lanjutnya. "Aku berhadapan dengan Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin dari Rusia, dan aku mengobrol dengan Jean-Jacques Rousseau, Aristide Briand, dan Jean Jaurès, ahli pidato terbesar dalam sejarah Prancis," kata Sukarno.
Pelajaran tentang pengadilan rakyat di Yunani kuno menjelma lebih dari sekadar materi sekolah bagi Sukarno muda yang saat itu tengah menempuh pendidikan di Hoogere Burger School (HBS). Di kepalanya, kisah itu berubah menjadi panggung besar yang dipenuhi para pemikir, negarawan, dan orator yang beradu gagasan tentang keadilan dan kebebasan. "Aku membayangkan pemikir-pemikir yang sedang marah selagi berpidato dan meneriakkan semboyan-semboyan seperti 'Persetan dengan Penindasan' dan 'Hidup Kemerdekaan'. Hatiku terbakar menyala-nyala," kata Sukarno.
Sukarno muda kerap menjadikan kamar sempitnya sebagai mimbar pidato. Berdiri di atas meja yang bergoyang, ia melontarkan kata demi kata dengan penuh penghayatan, seolah sedang berbicara di hadapan ribuan orang. “Hai, No, kau gila? Ada apa? Hei, apa kau sakit?” Kemudian tukang-tukang sorak itu kembali pada jawabannya sendiri, “Ah, tidak ada apa-apa. Cuma si No mau menyelamatkan dunia lagi.” Satu demi satu pintu-pintu menutup lagi dan membiarkan aku sendiri dalam kegelapan.
Bertemu Tokoh Pergerakan
Seiring bertambahnya usia, dunia Sukarno muda tak lagi hanya dibentuk oleh buku-buku yang dibacanya. Rumah HOS Tjokroaminoto di Peneleh memberinya kesempatan untuk bersentuhan langsung dengan para tokoh pergerakan yang datang silih berganti. Hampir setiap hari, pemimpin Sarekat Islam dari berbagai daerah maupun tokoh dari organisasi lain singgah dan menginap selama beberapa hari.
Ketika teman-teman seusianya bergegas keluar untuk menyaksikan pertandingan sepak bola, Sukarno memilih tetap berada di rumah. Ia duduk mendengarkan percakapan para tamu Tjokroaminoto, menyimak setiap cerita, perdebatan, dan pengalaman yang mereka bagikan. Tak jarang, ia berbagi tempat tidur dengan salah seorang tokoh yang menginap dan menghabiskan malam hingga menjelang fajar untuk mendengarkan kisah serta pandangan mereka tentang perjuangan.
Momen yang paling dinantikannya adalah saat makan bersama. Di meja makan, para tamu dan penghuni rumah duduk layaknya satu keluarga. Di sanalah pembicaraan politik mengalir tanpa sekat. Sukarno muda menyerap setiap percakapan, mendengarkan dengan saksama, dan sesekali memberanikan diri menyela dengan pertanyaan. "Sekali pada waktu makan malam mereka mempersoalkan kapitalisme dan barang-barang yang diangkut dari kepulauan kami untuk memperkaya Negeri Belanda. Di saat itulah aku bertanya pelan," “Berapa banyak yang diambil Belanda dari Indonesia?” “Anak ini sangat ingin tahu,” senyum Pak Tjok, kemudian menambahkan, “De Vereenigde Oost-Indische Compagnie menyedot—atau mencuri—kira-kira 1.800 juta gulden dari tanah kita setiap tahun untuk memberi makan Den Haag.” “Apa yang tinggal di negeri kita?” Kali ini aku bertanya sedikit lebih keras. “Rakyat tani kita yang mencucurkan keringat mati kelaparan dengan makanan segobang sehari,” kata Alimin, yaitu orang yang memperkenalkanku kepada Marxisme. “Kita menjadi bangsa kuli dan menjadi kuli di antara bangsa-bangsa,” sela kawannya yang bernama Musso. “Sarekat Islam bekerja untuk memperbaiki keadaan dengan mengajukan mosi-mosi kepada pemerintah,” kata Pak Tjok menerangkan dan tampak senang karena mempunyai murid yang begitu bersemangat. “Pengurangan pajak dan serikat-serikat pekerja hanya dapat digerakkan dengan kerja sama dengan Belanda, sekalipun kita membenci kerja sama ini.”
Berbagai gagasan yang diperolehnya dari buku-buku dan percakapan dengan para tokoh pergerakan tidak berhenti sebagai pengetahuan semata. Sukarno muda mulai merangkai semuanya dalam benaknya, menghubungkan apa yang dibacanya dengan apa yang didengarnya setiap hari. Dari perenungan-perenungan itulah tumbuh kesadaran baru. Sedikit demi sedikit, kekaguman terhadap tokoh-tokoh dunia bertransformasi menjadi kecintaan yang mendalam terhadap tanah airnya sendiri.
Sejarawan Ingatkan Pentingnya Keteladanan di Tengah Gempuran Medsos
Sejarawan Adrian Perkasa menyebut hubungan guru dan murid antara HOS Tjokroaminoto dan Sukarno menyimpan banyak pelajaran yang relevan bagi generasi muda Indonesia saat ini, terutama dalam hal semangat belajar dan pembentukan karakter. "Sosok Sukarno muda mempelajari sangat detail apa yang diajarkan oleh Pak Tjokro, yang diajarkannya bukan secara langsung dan verbal, tapi non verbal, bagaimana memahami, melihat, kemudian meniru apa yang dilakukan Pak Tjokro, misalnya gaya pidatonya, pemikiran-pemikirannya," kata dia kepada Liputan6.com.
Dosen Universitas Airlangga ini menuturkan, proses pembelajaran yang membentuk karakter dan cara berpikir seperti yang dialami Sukarno tidak dapat digantikan oleh media sosial semata, sehingga generasi muda perlu mencari ruang belajar yang lebih mendalam dan interaktif. "Karena keteladan yang sifatnya non verbal itu hanya bisa dipelajari, hanya bisa dipahami, diresapi dengan seksama apabila diikuti langsung, dan sang pelajar itu konsisten secara fisik, jadi ada contact in person," kata dia.



