Di lorong lantai 1 Pasar Triwindu, Surakarta, Jawa Tengah, deretan guci, koin kuno, meja marmer, hingga replika pompa bensin antik memenuhi sebuah kios sederhana. Di balik benda-benda yang menyimpan jejak masa lalu itu, berdiri Kiky (29), pedagang termuda di pasar barang antik legendaris tersebut.
Meneruskan Tradisi Keluarga
Di saat sebagian besar kios dikelola oleh generasi yang lebih tua, Kiky memilih meneruskan usaha keluarganya sebagai generasi keempat. "Saya itu kan generasi 4, Mbak. Jadi dari Mbah Buyut saya dulu, terus ibu, habis itu papa saya, habis itu saya," ujar Kiky saat berbincang dengan Kompas.com, Senin (29/6/2026).
Keputusan Kiky untuk terjun ke dunia barang antik tidak terlepas dari kecintaannya terhadap sejarah dan benda-benda bersejarah. Ia merasa bertanggung jawab untuk menjaga warisan keluarga yang telah berlangsung puluhan tahun.
Suasana Pasar Triwindu
Pasar Triwindu dikenal sebagai surga barang antik di Surakarta. Setiap sudutnya dipenuhi dengan berbagai koleksi unik, mulai dari perabotan rumah tangga kuno, perhiasan, hingga mainan klasik. Namun, sebagian besar pedagangnya sudah berusia lanjut, sehingga kehadiran Kiky menjadi angin segar bagi pasar tersebut.
Kiky mengaku bahwa tantangan terbesarnya adalah bersaing dengan pedagang lain yang lebih berpengalaman. Namun, ia optimis dengan strategi pemasaran modern, seperti memanfaatkan media sosial untuk menjangkau pembeli yang lebih muda.
Harapan untuk Masa Depan
Kiky berharap usahanya dapat terus berkembang dan menarik minat generasi muda terhadap barang antik. "Saya ingin anak-anak muda juga tertarik dengan barang antik, karena ini bagian dari sejarah kita," pungkasnya.



