Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat membuka diskusi daring bertema 'Menciptakan Maestro Seni Ukir Kelas Dunia' yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12. Diskusi ini menghadirkan Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Restu Gunawan, kurator seni Nano Warsono dan Suwarno Wisetrotomo sebagai narasumber, serta pengamat seni ukir Arif Akhyat sebagai penanggap. Moderator diskusi adalah Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI Eva Kusuma Sundari.
Seni Ukir sebagai Identitas Budaya
Dalam sambutannya, Lestari menegaskan bahwa seni ukir bukan sekadar karya seni atau komoditas pasar, melainkan bagian dari identitas budaya bangsa dan warisan nilai serta pengetahuan leluhur yang perlu dilestarikan. Ia menyebutkan bahwa Jepara saat ini sedang mengupayakan pengajuan seni ukir Jepara sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Oleh karena itu, diperlukan transmisi pengetahuan mengukir yang terdokumentasi dengan baik dari maestro kepada generasi penerus.
Lestari juga mengungkapkan bahwa Indonesia kaya akan seni dan maestro dengan karya yang diakui dunia. Namun, tantangan saat ini adalah bagaimana warisan budaya ukir dapat terus dilestarikan dan diwariskan secara berkelanjutan. Untuk menjaga keberlanjutan seni ukir Jepara, Lestari menilai perlu adanya sentuhan modern dalam pengembangannya tanpa menghilangkan makna seni yang terkandung di dalamnya. Ia mendorong semua pihak untuk bersama-sama memastikan warisan seni dan budaya dapat dipahami serta dilestarikan oleh generasi penerus di masa depan.
Ekosistem Seni yang Kuat untuk Lahirkan Maestro
Suwarno Wisetrotomo berpendapat bahwa seorang maestro berada pada level bakti yoga, yaitu seseorang yang membaktikan diri pada pilihan pekerjaannya, menjadi teladan, dan semestinya sudah selesai dengan dirinya. Namun, untuk melahirkan seorang maestro, dibutuhkan campur tangan banyak pihak. "Kita tidak bisa berharap memiliki banyak maestro seni di tanah air tanpa membangun ekosistem seni yang baik yang membutuhkan keterlibatan semua pihak," kata Suwarno.
Restu Gunawan mengungkapkan bahwa pemerintah terus mendorong kekayaan seni dan budaya di Tanah Air untuk mendapatkan pengakuan dunia. Saat ini, pemerintah melakukan berbagai upaya melalui single atau joint nomination dan extension guna mencatatkan sejumlah seni dan budaya Nusantara ke UNESCO. Menurut Restu, peran pemerintah dalam melahirkan maestro seni dan budaya mencakup dua hal utama: pertama, pengembangan sumber daya manusia di bidang seni dan budaya; kedua, edukasi kepada masyarakat agar memiliki pemahaman yang baik terhadap nilai seni dan budaya. "Tanpa pemahaman masyarakat tentang seni dan budaya yang baik, tidak ada yang mampu mengapresiasi karya para maestro," papar Restu. Ia menambahkan bahwa pemerintah juga menerapkan sistem pendataan kebudayaan terpadu untuk membangun ekosistem terintegrasi bagi pengembangan seni budaya yang melibatkan maestro dari beragam latar belakang.
Peran Penting Maestro sebagai Penggerak Ekosistem Seni
Nano Warsono mengungkapkan bahwa maestro seni ukir sudah ada sejak masa lalu. Ia menilai peran para maestro penting sebagai penggerak ekosistem seni. "Bagaimana peran maestro bisa diafirmasi menjadi pendorong terbangunnya ekosistem seni yang unggul di masa kini," jelas Nano. Ia menegaskan bahwa pembicaraan soal seni ukir saat ini tidak hanya membahas soal seni semata, tetapi juga kebutuhan ekonomi yang realistis. "Ekosistem yang sehat dan berkelanjutan harus mampu diwujudkan dalam upaya pengembangan seni ukir di tanah air," ucap Nano.
Sementara itu, Arif Akhyat menyampaikan pentingnya grand design dalam pengembangan seni budaya di Tanah Air agar berbagai upaya yang dilakukan dapat tepat sasaran. Arif mengakui bahwa upaya melahirkan maestro di bidang seni dan budaya membutuhkan dukungan semua pihak agar proses tersebut dapat berkelanjutan. "Dalam konteks lahirnya maestro, negara jangan hanya mau 'memanen', tetapi mengabaikan langkah 'memupuk' dan 'merawat'-nya," kata Arif. Ia berharap upaya untuk melestarikan seni dan budaya yang berkembang di masa lalu dapat berkelanjutan hingga masa kini.
Padepokan sebagai Ruang Pembinaan Maestro Ukir
Wartawan senior Saur Hutabarat mengungkapkan bahwa seorang maestro sudah melewati tiga dimensi, yaitu dimensi teknis, seni, dan filosofis. Karena itu, menurutnya, maestro bukan hanya dilahirkan, tetapi juga bisa dibentuk melalui proses pembelajaran yang tepat. "Bila seorang maestro ukir bisa dihasilkan di masa depan, lalu bagaimana kita bisa memperkirakan orang yang berpotensi menjadi maestro di masa depan?" ujar Saur. Untuk melahirkan maestro ukir di masa depan, ia mengusulkan penerapan konsep padepokan, seperti yang digunakan dalam seni tari. "Pada padepokan itu, seseorang dapat mendalami aspek teknis, seni, hingga mampu menjiwai aspek filosofis yang diajarkan para maestro ukir," pungkasnya.



