Memasuki hari ke-100 perang antara Amerika Serikat dan Iran pada Senin (8/6/2026), dampak konflik geopolitik ini tidak hanya terasa di kawasan Timur Tengah, tetapi juga mulai merambat hingga ke Asia Tenggara. Gangguan pada jalur perdagangan dan energi global kini mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai negara di kawasan, mulai dari Malaysia, Indonesia, hingga Singapura.
Dampak pada Jalur Perdagangan dan Energi
Laporan CNA pada Minggu (7/6/2026) menyebutkan bahwa krisis yang berpusat pada terganggunya Selat Hormuz sebagai jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia telah memicu lonjakan biaya energi dan bahan baku berbasis minyak. Dampaknya tidak lagi terbatas pada sektor minyak, tetapi sudah menjalar ke industri konstruksi, pangan, plastik, hingga kesehatan.
Lonjakan Harga Energi
Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik telah mendorong peningkatan biaya transportasi dan logistik di Asia Tenggara. Hal ini berdampak langsung pada harga barang kebutuhan pokok, terutama di sektor pangan dan konstruksi.
Industri yang Terdampak
- Konstruksi: Kenaikan harga bahan baku seperti aspal dan plastik.
- Pangan: Biaya distribusi yang lebih tinggi menyebabkan harga pangan naik.
- Plastik: Bahan baku plastik yang berasal dari minyak bumi mengalami kenaikan.
- Kesehatan: Peralatan medis berbasis plastik dan transportasi vaksin terpengaruh.
Respons Pemerintah di Asia Tenggara
Pemerintah di Malaysia, Indonesia, dan Singapura telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak krisis ini, termasuk dengan mencari sumber energi alternatif dan meningkatkan cadangan strategis. Namun, tekanan terhadap perekonomian domestik diperkirakan akan terus berlanjut selama konflik belum mereda.
Konflik AS-Iran yang telah berlangsung selama 100 hari menunjukkan bahwa perang di satu kawasan dapat memiliki efek domino yang luas, mengingat ketergantungan global pada jalur perdagangan energi di Selat Hormuz.



