Prakiraan Cuaca Jakarta dan Sekitarnya Hari Ini Jumat 10 April 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya pada hari ini, Jumat 10 April 2026. Kondisi cuaca diperkirakan akan bervariasi dari cerah berawan hingga berawan tebal dengan potensi hujan ringan yang turun merata di siang hari.
Detail Kondisi Cuaca per Wilayah
Pada pagi hari, kondisi cuaca di Jakarta menunjukkan variasi. Jakarta Barat diprakirakan cerah berawan, sementara wilayah lainnya seperti Jakarta Pusat, Selatan, dan Utara akan berawan. Jakarta Timur bahkan diperkirakan mengalami berawan tebal sejak pagi.
Memasuki siang hari, hujan ringan diprediksi turun di seluruh wilayah Jakarta, termasuk Kepulauan Seribu. Untuk wilayah penyangga seperti Bekasi, Depok, Kota Bogor, dan Tangerang, kondisi pagi hari didominasi berawan hingga berawan tebal, dengan hujan ringan berpotensi terjadi pada siang hari.
Pada malam hari, seluruh wilayah Jabodetabek diperkirakan kembali mengalami kondisi berawan tebal. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menyesuaikan aktivitas harian dengan kondisi cuaca yang berlaku.
BMKG Ingatkan Potensi Kemarau 2026 Lebih Kering
Di luar prakiraan cuaca harian, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memberikan peringatan penting mengenai kondisi iklim tahun 2026. Dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang diselenggarakan di Jakarta pada Selasa 7 April 2026, Faisal menyatakan bahwa musim kemarau 2026 berpotensi lebih kering dibandingkan normal.
"Kondisi iklim tahun 2026 berpotensi lebih kering, sehingga ada indikasi musim kemarau akan datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang," kata Faisal seperti dikutip dari keterangan resmi.
Faisal menjelaskan bahwa meskipun kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) saat ini masih netral, pada semester kedua 2026 diprediksi berkembang menuju El Nino lemah hingga moderat dengan peluang 50–80 persen. Kombinasi kemarau klimatologis dengan El Nino dapat menyebabkan curah hujan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering.
Hingga awal April 2026, jumlah titik panas (hotspot) di Indonesia telah mencapai 1.601 titik, angka yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Potensi karhutla diperkirakan meningkat di Riau pada Juni, kemudian meluas ke Jambi, Sumatera Selatan, serta Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada Juli-Agustus.
Langkah Mitigasi yang Dilakukan BMKG
Sebagai upaya mitigasi menghadapi potensi karhutla, BMKG memperkuat langkah preventif melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan metode pembasahan lahan (rewetting). Operasi ini dilakukan ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun untuk menjaga kelembapan agar tidak mudah terbakar.
BMKG juga melakukan pemantauan dan prediksi iklim secara berkala, memanfaatkan Fire Danger Rating System (FDRS) untuk memetakan tingkat kerawanan kebakaran, serta memantau hotspot, sebaran asap, dan potensi pertumbuhan awan hujan sebagai dasar intervensi di lapangan.
Diseminasi informasi peringatan dini juga diperkuat, bersama dengan monitoring dan evaluasi terhadap efektivitas operasi yang telah dilaksanakan. Saat ini, operasi modifikasi cuaca berlangsung di sejumlah wilayah prioritas dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Di Posko Riau, dari 23 sorti penerbangan, kita berhasil menambah curah hujan hingga 33 persen dengan volume air lebih dari 100 juta meter kubik. Di Natuna, tiga sorti penerbangan meningkatkan curah hujan sebesar 36 persen atau sekitar 1,4 juta meter kubik," jelas Faisal mengenai hasil operasi yang telah dilakukan.
Faisal menegaskan bahwa BMKG mendapat arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat operasi modifikasi cuaca dalam strategi nasional pengendalian karhutla. Ia berharap semua pihak dapat bersinergi dalam langkah yang sama untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tahun 2026.



