BMKG memprediksi es abadi di Puncak Jaya, Papua, akan hilang sepenuhnya pada akhir tahun 2026 atau awal 2027. Gletser tropis yang telah bertahan ribuan tahun ini terus menyusut drastis akibat perubahan iklim global dan fenomena El Nino.
Luas Es Menyusut Drastis
Menurut data BMKG, pada tahun 1988 gletser di Jayawijaya membentang seluas 4,3 km persegi. Namun, pada September 2025 luasnya tinggal 0,09 km persegi. Penyusutan ini terjadi secara signifikan dalam waktu kurang dari empat dekade.
Ketebalan es juga mengalami penurunan tajam. Pada tahun 2010, ketebalan es mencapai 32 meter, tetapi pada tahun 2023 hanya tersisa 4 meter. Pemantauan terbaru menunjukkan es telah mencair sepenuhnya di beberapa titik.
Penyebab Hilangnya Es Abadi
BMKG menjelaskan bahwa hilangnya es abadi dipicu oleh kombinasi perubahan iklim global dan El Nino yang menyebabkan suhu semakin panas dan cuaca lebih kering di Indonesia. "Banyak peneliti memperkirakan es abadi di Papua hanya tinggal hitungan bulan sebelum benar-benar hilang," tulis BMKG dalam akun Instagram resminya, Jumat (3/7/2026).
Dampak hilangnya es tidak hanya bersifat lingkungan, tetapi juga budaya. Puncak Jaya merupakan simbol budaya dan spiritual bagi masyarakat Papua. "Hilangnya es abadi bakal menjadi kehilangan besar dari warisan leluhur masyarakat Papua," ujar BMKG.
Dampak Lingkungan yang Luas
Selain aspek budaya, lenyapnya gletser ini akan mengganggu keseimbangan air di Papua. Es pegunungan berperan penting dalam menjaga ketersediaan air bagi ekosistem, habitat satwa, dan lahan pertanian masyarakat. Jika es habis, maka ekosistem dan lahan pertanian bisa ikut terdampak.
BMKG menegaskan bahwa dampak perubahan iklim sudah nyata di Puncak Jaya. Generasi saat ini mungkin menjadi yang terakhir yang bisa melihat es abadi di Indonesia. "Sulit dipercaya, tapi mungkin kita adalah generasi terakhir yang masih sempat melihat es abadi di Indonesia," tulis BMKG.
Ajakan untuk Bertindak
Menghadapi situasi ini, BMKG mengajak semua pihak untuk bersama menjaga alam melalui aksi nyata seperti menanam pohon, mendaur ulang sampah, menggunakan transportasi umum, hemat air, dan memakai produk ramah lingkungan. Upaya ini diharapkan dapat memperlambat dampak perubahan iklim dan melindungi warisan alam Indonesia.



