Dampak krisis energi akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran semakin terasa di kawasan Asia, yang merupakan wilayah pengimpor minyak terbesar di dunia. Sejumlah pemerintah di Asia kini berpacu mencari sumber energi alternatif sekaligus melindungi ekonomi masing-masing dari dampak terburuk krisis. Namun, langkah tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Gangguan Pasokan Energi dan Dampak Ekonomi
Gangguan pasokan energi mendorong Asian Development Bank (ADB) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia berkembang dan Pasifik menjadi 4,7 persen tahun ini dan 4,8 persen pada 2027, turun dari sebelumnya 5,1 persen. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran akan ketidakstabilan harga energi dan rantai pasok global yang terganggu.
Kenaikan Inflasi di Tengah Perlambatan
Di saat yang sama, proyeksi inflasi justru naik menjadi 5,2 persen untuk tahun ini. Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya harga energi dan bahan pangan, yang memberikan tekanan pada daya beli masyarakat di berbagai negara Asia.
Pemerintah di kawasan ini, termasuk Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan, telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak. Beberapa di antaranya mempercepat transisi ke energi terbarukan, meningkatkan cadangan strategis, dan menjalin kerja sama bilateral untuk mengamankan pasokan energi alternatif. Namun, semua upaya ini memerlukan investasi besar yang membebani anggaran negara di tengah perlambatan ekonomi global.
ADB juga mencatat bahwa risiko geopolitik masih tinggi dan dapat mempengaruhi stabilitas kawasan. Jika konflik AS-Iran meluas, dampaknya bisa lebih parah, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah.



