Zulhas Targetkan Sampah Rampung 2028, Diubah Jadi Listrik
Zulhas Targetkan Sampah Rampung 2028, Jadi Listrik

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menargetkan penyelesaian persoalan sampah secara bertahap hingga 2029, dengan prioritas utama pada lokasi darurat seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang yang ditargetkan rampung pada 2028 melalui teknologi insinerator yang mengubah sampah menjadi listrik.

Target 2028 untuk Sampah Darurat

Dalam rapat dengan DPR RI di Senayan, Jakarta, Senin (22/6/2026), Zulhas menyatakan bahwa sampah telah menjadi masalah besar selama lebih dari 80 tahun kemerdekaan Indonesia. "Jadi memang sampah ini kan masalah kita ya. Sudah 80 tahun lebih kita merdeka, masih menimbulkan masalah yang besar. Kita bisa selesaikan asal kita bersama-sama," kata Zulhas.

Ia menjelaskan bahwa persoalan sampah telah dibagi menjadi beberapa kategori. Untuk lokasi darurat seperti Bantar Gebang, pemerintah menargetkan penyelesaian paling lambat 2028 dengan menggunakan insinerator. "Sampah diubah jadi listrik. Itu 2028 kita akan selesaikan," ucap dia.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Target 2029 untuk Gedung dan Perkantoran

Selanjutnya, Zulhas menargetkan penyelesaian sampah di perkantoran, sekolah, hingga gedung kementerian dan lembaga pada 2029. "Nah, sekarang seperti gedung-gedung yang dikelola seperti MPR, DPR, pasar, mal, kantor-kantor, sekolah, itu kita bisa selesaikan sampai tahun 2029, akan kita selesaikan semua ya, melalui beberapa skema; ada RDF, ada apa itu pilorisasi, banyak cara-caranya ya," ujar dia.

Pemilahan Sampah Rumah Tangga Jadi Kunci

Zulhas mengakui bahwa sampah rumah tangga merupakan tantangan terbesar. Kunci penyelesaiannya adalah pemilahan sampah organik dan anorganik, seperti yang telah dilakukan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. "Kemudian yang terakhir yang agak sulit itu memang rumah tangga. Nah kuncinya itu adalah pemilahan; sampah organik dan anorganik. Kalau itu sudah kita pisah, yang anorganik nanti bisa didaur ulang, bisa banyak itu jadi energi, bisa jadi listrik dan lain-lain. Tapi yang organik, yang basah ini, ini bisa diolah menjadi pupuk atau makanan pakan ternak dan lain-lain. Ada maggot dan lain-lain, ini bisa kita selesaikan," jelas dia.

Ia meminta pemerintah provinsi lain meniru Jakarta yang sudah menjalankan pemilahan sampah. "Kuncinya adalah di pemilahan. Nah kalau gerakannya masif, yang Jakarta ini akan di-copy oleh pemerintah-pemerintah daerah yang lain se-Indonesia, maka 75 persen saya kira sampah di Tanah Air akan kita selesaikan di akhir 2029," tutur dia.

Penegakan Aturan dan Insentif

Zulhas menekankan pentingnya penegakan aturan dengan pendekatan "stick and carrot". "Yang salah dihukum, yang baik dapat reward gitu ya. Kan sudah ada undang-undangnya. Karena open dumping sekarang, kalau open dumping bisa dipidana, nggak boleh lagi. Jadi harus penegakan aturan," lanjutnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga