Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mendeteksi sejumlah retakan dengan kedalaman tertentu di bawah permukaan lantai rumah Mutfiana alias Fia di Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Retakan ini diduga menjadi jalur bagi senyawa yang berkaitan dengan pemicu fenomena api dan kebakaran berulang yang telah meresahkan keluarga Fia.
Deteksi Menggunakan Georadar
Retakan-retakan tersebut ditemukan melalui proses deteksi menggunakan perangkat georadar yang dibawa oleh tim dari Laboratorium Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi UGM. Saptono Budi Samodra, peneliti dari tim tersebut, menjelaskan bahwa pihaknya telah mencoba mendeteksi titik-titik yang sebelumnya dilaporkan sebagai lokasi kemunculan api di rumah Fia.
"Jadi yang kalau di atas ini urugan itu terlihat tadi di alat, kemudian di bawah itu masih ada tanah aslinya. Tanah asli itu kelihatan ada yang menunjukkan ada pola atau struktur retakan di beberapa tempat," kata Saptono saat ditemui di rumah Fia pada Senin (8/6).
Cara Kerja Georadar
Georadar, atau geoscaner, bekerja menggunakan pulsa gelombang elektromagnetik 60 MHz untuk memetakan struktur di bawah permukaan tanah. Gelombang dipancarkan ke dalam tanah, lalu dipantulkan kembali ke permukaan saat menabrak material dengan kepadatan berbeda untuk dianalisis. Retakan terbaca di layar perangkat berupa garis rambut atau dimensi lebih besar yang memutus beberapa lapisan tanah. Beberapa retakan tegak lurus dan sebagian lainnya miring, namun kemungkinan tetap sinkron dengan titik kemunculan api.
Kedalaman Retakan Bervariasi
Saptono menyatakan bahwa kedalaman retakan ini bervariasi. Namun, ia juga menekankan bahwa gelombang elektromagnetik yang dihasilkan georadar terbatas maksimal 20 meter di bawah permukaan tanah. "Mungkin di bawah masih berlanjut, cuma keterbatasan kemampuan alat yang tidak bisa mendeteksi sampai lebih dalam," terangnya.
Tim sejauh ini baru memaparkan pembacaan sementara dari georadar. Hasil pendeteksian masih perlu melalui tahap olah data untuk memastikan keterkaitan retakan dengan senyawa pemicu api. Selain itu, tim juga akan menggunakan geolistrik untuk pengukuran ke lapisan yang lebih dalam serta berencana melakukan pengeboran tangan untuk melihat jenis lapisan tanah di bawah rumah Fia.
Penelitian dari Aspek Geologi
Saptono menekankan bahwa penelitian yang dilakukan timnya berfokus pada aspek geologi. Pihaknya mencari kemungkinan lain dari kesimpulan sementara Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM, yang menyebutkan api dipicu oleh gas hidrogen (H2) dan gas fosfin (PH3). Asumsi PKPE adalah gas hidrogen lahir dari fermentasi limbah organik berupa campuran kotoran, sisa air dan darah, serta bulu ayam, yang juga mengindikasikan sumber senyawa lain yang lebih mudah terbakar pada suhu kamar, yaitu gas fosfin. Keluarga Fia memang membuka usaha pemotongan ayam di rumah mereka.
"(Meneliti) aspek geologi, kira-kira ada enggak ya yang penyebab lain yang bukan dari terkait dengan pemotongan ayam," ucap Saptono.
Intensitas Api Menurun
Sementara itu, Fia mencatat total kemunculan api telah mencapai 113 kali pada hari ke-17 sejak kemunculan pertamanya. Intensitas kebakaran secara spontan per harinya cenderung menurun. Fia mengutip penjelasan pakar bahwa hal ini mungkin disebabkan rumahnya yang kini banyak dikunjungi orang. Semakin banyak orang di dalam ruangan, maka oksigen (O2) yang menjadi salah satu syarat terbentuknya api juga berkurang kadarnya.
"Menurun karena banyak pengunjung, banyak tamu karena seperti yang sudah dikatakan bahwa gas oksigen itu rebutan dengan manusia. Kalau manusianya banyak yang datang, berarti intensitasnya turun. Nah, itu kayaknya masuk gitu," ucap Fia.
Investigasi dari UPN Veteran Yogyakarta
Tim peneliti dari UPN Veteran Yogyakarta yang dipimpin oleh Guru Besar dan Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) Basuki Rahmat, melakukan investigasi untuk kemungkinan sumber gas dari aspek geologi. Mereka telah menelusuri dan menemukan adanya batuan induk di area sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah Fia. Tim mencurigai gas alami, termasuk gas metana (CH4) dan gas hidrogen, yang bisa berasal dari endapan batuan lanau berwarna gelap yang kaya material organik.
Tim peneliti UPN juga telah melakukan penelitian geomagnetik untuk mencari jenis batuan ultrabasa dan vulkanik yang bisa membentuk gas hidrogen. Survei geolistrik di sekitar rumah Fia juga telah diterapkan untuk memetakan lapisan batuan di bawah tanah dan mendeteksi struktur atau rongga yang menjadi jalur keluarnya gas pemicu api.



