Jakarta - Konektivitas internasional menjadi faktor kunci dalam pengembangan destinasi pariwisata yang berdaya saing, karena mampu mendorong mobilitas wisatawan, memasukkan devisa, dan meningkatkan aktivitas ekonomi daerah. Sejalan dengan hal tersebut, penerbangan internasional menuju Pulau Belitung kembali beroperasi pada Minggu (3/5), setelah sempat terhenti selama beberapa tahun terakhir.
Babak Baru KEK Tanjung Kelayang
Momentum ini menandai babak baru bagi pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus mengimplementasikan arahan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, untuk mendorong pariwisata melalui koneksi langsung penerbangan internasional.
Penerbangan langsung antara Belitung dan Singapura kembali tersedia melalui layanan reguler maskapai Scoot. Rute yang menghubungkan Bandara Changi dengan Belitung ini dioperasikan secara berkala sebanyak dua kali dalam seminggu dan mendapatkan respons signifikan dari wisatawan mancanegara, khususnya dari kawasan Asia Tenggara. Penerbangan perdana menggunakan pesawat Embraer E190-E2 berkapasitas 112 kursi mencatat 80 penumpang kedatangan dengan load factor lebih dari 70 persen.
Dampak Ekonomi dan Multiplier Effect
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, dalam keterangannya pada Selasa (5/5/2026) menyatakan, "Dampak ekonomi dan efek berganda (multiplier effect) dari pembukaan gerbang internasional ini sangat signifikan. Proyeksinya sangat optimis, pertumbuhan perekonomian di Pulau Belitung berpotensi melonjak, didorong kuat oleh devisa yang dibawa oleh para wisatawan internasional."
Lebih lanjut, Haryo menambahkan bahwa aktivitas wisatawan asing tidak hanya berkontribusi pada sektor perhotelan dan transportasi, tetapi juga menciptakan efek berantai yang menjangkau pelaku usaha mikro hingga masyarakat lokal. Perputaran ekonomi dari sektor ini cenderung lebih cepat dan langsung dirasakan dibandingkan sektor lain yang memiliki rantai distribusi lebih panjang.
Praktik Terbaik Global
Penguatan konektivitas ini juga sejalan dengan praktik terbaik global, di mana destinasi unggulan dunia seperti Bali, Langkawi, dan Koh Samui menunjukkan bahwa akses penerbangan internasional yang memadai menjadi kunci dalam menarik wisatawan berkualitas dan meningkatkan nilai ekonomi kawasan. Nilai ekonomi destinasi pariwisata akan berbanding lurus dengan tingkat kunjungan wisatawan dan besarnya peredaran devisa di kawasan tersebut, di mana dampaknya tidak hanya terjadi pada sektor utama, tetapi juga menjangkau pelaku usaha lokal hingga masyarakat di sekitar titik kedatangan seperti transportasi dan jasa pendukung lainnya.
Pemerintah menilai bahwa pengembangan pariwisata berbasis konektivitas juga menjadi strategi penting di tengah dinamika global. Sejumlah negara, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, telah mengoptimalkan sektor pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui investasi besar pada infrastruktur dan aksesibilitas.
KEK Tanjung Kelayang sebagai Hub Pariwisata
Dalam konteks nasional, KEK Tanjung Kelayang diharapkan dapat menjadi simpul utama (hub) pengembangan pariwisata berbasis internasional di luar destinasi yang telah mapan. Sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan pelaku usaha akan terus diperkuat guna memastikan keberlanjutan operasional penerbangan serta peningkatan kualitas layanan destinasi. Pemerintah juga akan terus mendorong optimalisasi KEK sebagai motor penggerak ekonomi, termasuk melalui peningkatan investasi, penguatan promosi, serta pengembangan ekosistem pariwisata yang terintegrasi dan berdaya saing global.
"Kami melihat ini bukan sekadar pembukaan rute penerbangan, melainkan bagian dari strategi besar untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah, menciptakan lapangan kerja, dan memperluas basis penerimaan devisa negara," tegas Juru Bicara Haryo.
Data Kunjungan dan Prospek ke Depan
Adapun data pariwisata menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Belitung konsisten meningkat dari sekitar 7.000 kunjungan pada tahun 2023 menjadi 10.000 kunjungan di tahun 2024. Penerbangan langsung internasional tersebut diharapkan akan meningkatkan jumlah kunjungan dan memudahkan penciptaan branding Pulau Belitung sebagai destinasi pariwisata prioritas dan berkualitas.
Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata, Herfan Brilianto, menambahkan, "Sebagai salah satu destinasi pariwisata prioritas, Belitung berada di posisi strategis hanya sekitar 1 jam dari Jakarta, Singapura, dan Kuala Lumpur. Kemenko Perekonomian berkomitmen untuk menjadikan status bandara internasional sebagai daya ungkit bagi bangkitnya sektor pariwisata di Belitung, dengan didukung keberadaan KEK Pariwisata Tanjung Kelayang."



