Kelangkaan Barang dan Ketakutan Hantui Masyarakat Iran Akibat Blokade AS
Kelangkaan Barang dan Ketakutan Hantui Masyarakat Iran

Blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak 13 April 2026 telah memicu kelangkaan barang dan ketakutan di kalangan masyarakat Iran. Blokade ini bertujuan menghentikan ekspor Iran, terutama minyak, serta menekan pemerintah Teheran. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap blokade Selat Hormuz oleh Iran.

Blokade Melanggar Gencatan Senjata

Menurut Shahin Modarres, pakar keamanan internasional dari Universitas Roma Tor Vergata, Amerika Serikat mampu mempertahankan blokade militer ini selama berbulan-bulan, bahkan lebih dari setahun dalam beberapa skenario. Setelah hampir enam minggu perang, gencatan senjata yang rapuh antara Iran dan AS telah tercapai, namun blokade laut AS dianggap sebagai pelanggaran terhadap perjanjian tersebut. Ketua Parlemen Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, mengkritik keras langkah ini melalui platform X, menyatakan bahwa pembukaan Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan selama pelanggaran berat masih berlangsung. Presiden AS Donald Trump tetap mempertahankan blokade hingga kesepakatan baru dengan Teheran tercapai.

Dampak Ekonomi yang Meluas

Blokade tidak hanya menekan ekspor minyak Iran, tetapi juga menghambat impor barang kebutuhan pokok. Jurnalis ekonomi Ashkan Nizamabadi, yang berbasis di Berlin, menjelaskan bahwa impor bahan pangan pokok dan bahan baku produksi akan terdampak signifikan. Iran mengimpor sekitar satu juta ton beras setiap tahun, terutama dari India dan Pakistan. Jika blokade berlanjut, Teheran harus beralih ke jalur darat melalui Turki, yang jauh lebih mahal. Biaya tambahan ini akan ditanggung oleh konsumen, menyebabkan kenaikan harga. Para importir pun menahan pengiriman pasokan karena khawatir akan kelangkaan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Seorang jurnalis anonim dari Teheran menggambarkan kehidupan sehari-hari yang penuh kelelahan kolektif. Di supermarket atau toko roti, orang hanya membeli kebutuhan untuk satu kali makan, tidak mampu merencanakan hari esok. Ketakutan kehilangan pekerjaan dan hidup dalam kemiskinan semakin meningkat. Puluhan ribu pekerja harian telah di-PHK setelah hancurnya fasilitas minyak dan industri. Industri baja dan petrokimia berhenti berproduksi, memicu reaksi berantai yang memaksa banyak perusahaan tutup. Banyak layanan belum pulih meskipun gencatan senjata telah diberlakukan.

Kisah Nyata dari Masyarakat

Samaneh, seorang penjual di toko kosmetik di Teheran, menceritakan situasinya. Sejak mogok kerja massal tahun lalu, segalanya berhenti. Protes meletus, lalu perang terjadi. Meskipun ada gencatan senjata, situasi tidak membaik. Banyak keluarga kini hidup dari tabungan dan tidak tahu berapa lama lagi mereka bisa bertahan. Pemuda-pemuda kembali tinggal bersama orang tua, sementara yang lain meninggalkan kota besar seperti Teheran untuk menghindari biaya hidup tinggi.

Proyeksi Ekonomi yang Suram

Ekonomi Iran telah terpuruk selama bertahun-tahun akibat tata kelola buruk, korupsi, dan sanksi internasional. Pada 2025, tingkat inflasi rata-rata diperkirakan 51%, dan pada 2026 diproyeksikan naik menjadi 69%. Ekonom Amir Alizadeh dari Kamar Dagang Industri Ulm menyatakan bahwa ekonomi Iran saat ini berada dalam resesi dengan inflasi meningkat. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi negatif sekitar enam persen untuk Iran pada 2026. Program Pembangunan PBB (UNDP) bahkan memperkirakan penurunan delapan hingga sepuluh persen jika mempertimbangkan indikator pembangunan manusia. Tingkat kemiskinan diperkirakan naik dari 36 persen menjadi sekitar 41 persen.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman dan diadaptasi oleh Sorta Caroline. Editor: Ayu Purwaningsih.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga