China Alami Krisis Demografi: Lansia Lampaui Jumlah Anak untuk Pertama Kali
Krisis Demografi China: Lansia Lampaui Populasi Anak

KOMPAS.com – Krisis demografi di China kini memasuki babak baru yang semakin mengkhawatirkan. Untuk pertama kalinya dalam catatan sejarah sejak 1949, jumlah penduduk lanjut usia (lansia) berusia 65 tahun ke atas di China resmi melampaui populasi anak-anak. Kondisi struktural populasi ini mempertegas tekanan demografi yang kian mendalam di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Data Terbaru dari Biro Statistik Nasional China

Berdasarkan data resmi survei sampel nasional yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) China, fenomena ini berpotensi mengubah lanskap sosial dan ekonomi Beijing secara drastis. Dilansir dari South China Morning Post, hingga akhir tahun lalu, persentase penduduk lansia yang berusia minimal 65 tahun ke atas di China telah mencapai 15,87 persen dari total populasi. Angka ini menunjukkan bahwa populasi lansia kini lebih besar dibandingkan dengan jumlah anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Implikasi Sosial dan Ekonomi

Pergeseran demografi ini membawa dampak signifikan terhadap berbagai sektor, termasuk tenaga kerja, sistem pensiun, dan layanan kesehatan. Dengan jumlah lansia yang terus bertambah, China menghadapi tantangan dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan menyediakan dukungan sosial yang memadai. Sementara itu, penurunan jumlah anak-anak mengindikasikan rendahnya tingkat kelahiran yang telah menjadi kekhawatiran pemerintah selama bertahun-tahun.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Upaya Pemerintah Mengatasi Krisis

Pemerintah China telah menerapkan berbagai kebijakan untuk mendorong angka kelahiran, seperti pelonggaran kebijakan satu anak menjadi dua anak, dan kemudian tiga anak. Namun, efektivitas kebijakan tersebut masih dipertanyakan mengingat biaya hidup yang tinggi dan perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan. Para ahli memprediksi bahwa tren ini akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan, memperburuk ketidakseimbangan struktur populasi.

Krisis demografi ini tidak hanya berdampak pada China, tetapi juga memiliki implikasi global mengingat peran China sebagai pusat manufaktur dan konsumen utama dunia. Dengan populasi yang menua, China mungkin akan mengalami penurunan produktivitas dan peningkatan beban fiskal, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi perekonomian global.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga