Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) masih berada di level Rp 18.095 pada Minggu (7/6/2026) pagi. Pelemahan mata uang Garuda ini memicu kekhawatiran karena terjadi meski berbagai langkah stabilisasi telah dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia (BI).
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai kondisi tersebut menunjukkan kebijakan yang ditempuh sejauh ini belum mampu mengembalikan kepercayaan pasar dan menguatkan nilai tukar rupiah.
"Tentu pelemahan ini semakin menunjukkan bahwa kebijakan ataupun strategi yang dilakukan pemerintah belum mampu menguatkan rupiah," ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (5/6/2026).
Menurut Nailul, pelemahan rupiah yang terus berlanjut mencerminkan masih rendahnya minat investor terhadap aset domestik. Ia menambahkan bahwa langkah-langkah seperti intervensi pasar dan kenaikan suku bunga acuan belum memberikan dampak signifikan.
"Kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih lemah. Dibutuhkan kebijakan yang lebih komprehensif dan kredibel untuk membalikkan sentimen," jelasnya.
Ia juga menyoroti faktor eksternal, seperti penguatan dolar AS dan ketidakpastian global, yang turut menekan rupiah. Namun, ia menekankan bahwa faktor internal seperti defisit transaksi berjalan dan inflasi juga perlu diatasi.
"Pemerintah harus bekerja sama dengan BI untuk menciptakan stabilitas jangka panjang. Tidak cukup hanya dengan langkah jangka pendek," pungkas Nailul.



