Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan signifikan dan kini berada di level Rp 18.095 per dollar AS pada Sabtu (7/6/2026). Angka ini menunjukkan pelemahan yang cukup tajam, mengingat sebelumnya rupiah masih berkisar di Rp 17.000 per dollar AS.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp 18.000 per dollar AS dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Menurutnya, tensi geopolitik yang kembali memanas menghambat prospek perdamaian di kawasan tersebut.
"Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai," ujar Destry dalam pernyataannya dikutip dari Kompas.com pada Kamis (4/6/2026).
Dampak Konflik Global
Konflik di Timur Tengah telah memicu ketidakpastian di pasar keuangan global, mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS. Hal ini memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Bank Indonesia terus memantau perkembangan dan siap melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan fundamental ekonomi.



