Sutradara ternama Indonesia, Joko Anwar, secara terbuka mengungkapkan bahwa karya terbarunya yang berjudul Ghost in the Cell bukan sekadar film horor komedi biasa. Film ini, menurutnya, merupakan sebuah representasi mendalam dari kegelisahan kolektif masyarakat terhadap kondisi sosial yang sedang terjadi di Tanah Air.
Latar Penjara sebagai Metafora Kehidupan
Melalui latar cerita yang berlatar belakang penjara, Joko Anwar dengan sengaja ingin menyuguhkan sebuah cerminan nyata dari kehidupan warga negara yang merasa terjebak dalam sebuah sistem. Sistem tersebut, dalam pandangannya, digambarkan sebagai sesuatu yang "sakit" dan memerlukan perhatian serius.
Proses Kreatif yang Panjang dan Penuh Harapan
Joko Anwar menjelaskan bahwa proses kreatif pembuatan film Ghost in the Cell ini telah dimulai dan dikembangkan sejak tahun 2018. Pada awalnya, ia memiliki harapan besar bahwa kondisi negara akan menunjukkan perbaikan seiring berjalannya waktu. Sayangnya, realitas yang terjadi justru berbanding terbalik dengan ekspektasi tersebut.
Ia merasa bahwa situasi sosial politik di Indonesia tidak mengalami kemajuan yang signifikan, bahkan cenderung stagnan atau memburuk dalam beberapa aspek. Hal inilah yang kemudian memperkuat niatnya untuk menyampaikan pesan kritik sosial melalui medium film, dengan harapan dapat membangkitkan kesadaran dan diskusi publik.
Film Ghost in the Cell diharapkan tidak hanya menjadi tontonan menghibur, tetapi juga mampu mengajak penonton untuk merefleksikan keadaan di sekitar mereka. Dengan pendekatan genre horor komedi, Joko Anwar berusaha menyampaikan kritik yang tajam namun tetap mudah dicerna oleh berbagai kalangan.



