Aktor laga legendaris Jet Li menceritakan pengalaman nyaris tewas dalam tragedi tsunami Samudra Hindia tahun 2004 yang mengubah total perspektif hidupnya. Peristiwa tersebut menyadarkannya bahwa maut bisa datang kapan saja, tanpa harus menunggu usia pensiun.
Pengalaman Nyaris Tewas di Maladewa
Dalam wawancara dengan People terkait peluncuran buku terbarunya, Beyond Life and Death: The Way of True Freedom, Li mengenang momen mencekam saat berlibur bersama keluarganya di Maladewa. Saat tsunami menerjang, Li yang saat itu berusia 41 tahun merasa ajalnya sudah sangat dekat.
Kejadian itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa kehidupan sangat rapuh dan kematian tidak pernah memandang usia. Pengalaman ini mendorongnya untuk lebih menghargai setiap momen dan menjalani hidup dengan lebih bermakna.
Dampak Tsunami pada Pandangan Hidup
Jet Li mengaku bahwa peristiwa tersebut mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Sebelumnya, ia mungkin terlalu fokus pada karier dan hal-hal duniawi. Namun setelah tsunami, ia lebih menekankan pada kebahagiaan batin dan hubungan dengan orang-orang terdekat.
Buku terbarunya, Beyond Life and Death: The Way of True Freedom, menjadi wadah untuk berbagi refleksi mendalam tentang kehidupan dan kematian. Melalui buku ini, ia berharap dapat menginspirasi orang lain untuk menemukan kebebasan sejati dalam hidup.



