Aktris Shireen Sungkar secara terbuka menceritakan pengalamannya dalam mendiagnosis kondisi autisme yang dialami oleh putri bungsunya, Cut Shafiyyah. Dalam sebuah wawancara, Shireen mengaku bahwa ia sebenarnya sudah lama menyadari adanya perubahan pada perilaku putrinya, namun kekhawatirannya itu kerap dijawab oleh dokter dengan pernyataan bahwa anaknya tidak mengalami autisme.
Tanda-tanda yang Terlewatkan
Shireen mengatakan bahwa ia mulai melihat perbedaan pada Shafiyyah sejak usia dini. Namun, setiap kali ia berkonsultasi dengan dokter, hasil pemeriksaan selalu menunjukkan bahwa Shafiyyah tidak memiliki autisme. Hal ini membuat Shireen sempat ragu dan tidak segera mendapatkan diagnosis yang tepat. Baru setelah Shafiyyah berusia tiga tahun, diagnosis autisme akhirnya ditegakkan.
Menurut Shireen, keterlambatan diagnosis ini cukup umum terjadi pada anak-anak dengan autisme, terutama jika gejalanya tidak terlalu kentara. Ia berharap pengalamannya dapat menjadi pelajaran bagi orang tua lain untuk lebih peka terhadap perkembangan anak dan tidak ragu untuk mencari pendapat kedua jika diperlukan.
Pentingnya Deteksi Dini
Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan komunikasi dan interaksi sosial. Deteksi dini sangat penting agar anak dapat memperoleh intervensi yang tepat sejak awal. Shireen menekankan bahwa orang tua harus percaya pada insting mereka dan tidak mudah puas dengan satu diagnosis jika ada keraguan.
“Jangan pernah berhenti mencari jawaban jika Anda merasa ada yang tidak beres dengan perkembangan anak Anda,” ujar Shireen. Ia juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki perjalanan yang unik, dan dukungan keluarga adalah kunci utama dalam membantu anak dengan autisme berkembang secara optimal.
Dukungan untuk Keluarga dengan Autisme
Shireen dan suaminya, Teuku Wisnu, kini aktif memberikan dukungan kepada keluarga lain yang memiliki anak dengan autisme. Mereka sering berbagi pengalaman dan informasi melalui media sosial dan acara-acara tertentu. Menurut data dari Kementerian Kesehatan, prevalensi autisme di Indonesia diperkirakan sekitar 1 dari 100 anak, namun angka ini mungkin lebih tinggi karena banyak kasus yang tidak terdiagnosis.
Shireen berharap kesadarannya tentang autisme dapat membantu mengurangi stigma dan memberikan informasi yang lebih akurat kepada masyarakat. Ia juga mengajak para orang tua untuk lebih terbuka dalam mencari bantuan profesional dan tidak merasa malu jika anak mereka memerlukan perawatan khusus.



