KOMPAS.com – Banyak orang berasumsi bahwa jika hasil tes profil lipid atau kadar kolesterol mereka normal, maka kesehatan jantung mereka sudah sepenuhnya aman. Namun, para pakar kesehatan memperingatkan bahwa angka kolesterol semata tidak selalu menggambarkan risiko penyakit kardiovaskular secara utuh.
Faktanya, seseorang dengan kadar lipid yang tampak normal masih bisa mengalami serangan jantung. Hal ini terjadi karena panel pemeriksaan kolesterol standar tidak mengukur semua marker atau tanda yang terkait dengan penyakit jantung. Salah satu marker krusial yang sering terlewatkan adalah Apolipoprotein B (ApoB).
Mengapa Kolesterol Normal Bisa Menyesatkan?
Pemeriksaan kolesterol standar biasanya hanya mengukur kolesterol total, LDL (kolesterol jahat), HDL (kolesterol baik), dan trigliserida. Namun, angka-angka ini tidak memberikan gambaran lengkap tentang partikel pembawa kolesterol dalam darah. ApoB adalah protein yang terdapat pada partikel LDL dan partikel aterogenik lainnya. Jumlah partikel ApoB yang tinggi, meskipun kadar LDL normal, dapat meningkatkan risiko penumpukan plak di arteri.
Menurut para ahli, ApoB merupakan indikator yang lebih akurat untuk menilai risiko penyakit jantung dibandingkan LDL saja. Pasien dengan kadar LDL normal tetapi ApoB tinggi tetap berisiko mengalami aterosklerosis dan serangan jantung.
Faktor Risiko Lain yang Perlu Diwaspadai
Selain ApoB, ada beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi kesehatan jantung meskipun kolesterol normal, antara lain:
- Riwayat keluarga penyakit jantung
- Merokok atau paparan asap rokok
- Tekanan darah tinggi
- Diabetes atau resistensi insulin
- Obesitas, terutama lemak perut
- Kurang aktivitas fisik
- Pola makan tinggi lemak jenuh dan gula
Oleh karena itu, penting untuk tidak hanya mengandalkan hasil tes kolesterol saja. Konsultasi dengan dokter dan pemeriksaan lanjutan seperti tes ApoB dapat memberikan penilaian risiko yang lebih komprehensif.
Jangan lupa untuk terus memantau kesehatan jantung dengan gaya hidup sehat, seperti olahraga teratur, konsumsi makanan bergizi seimbang, dan menghindari kebiasaan buruk. Deteksi dini dan pencegahan adalah kunci utama untuk menghindari serangan jantung mendadak.



