Polusi udara masih menjadi persoalan lingkungan di berbagai daerah Indonesia. Di antara berbagai polutan, partikulat atau particulate matter (PM) perlu diwaspadai karena ukurannya sangat kecil dan mudah terhirup ke saluran pernapasan. Berdasarkan materi edukasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berikut penjelasan lengkap mengenai polusi partikulat, sumber, dan dampaknya.
Apa Itu Polusi Partikulat?
Menurut BMKG, partikulat (PM) adalah debu, asap, dan kotoran berukuran sangat kecil yang melayang di udara. Ukurannya jauh lebih kecil daripada sehelai rambut manusia sehingga sering tidak terlihat oleh mata. Rambut manusia memiliki diameter sekitar 50–70 mikrometer. Sementara itu, PM10 berukuran kurang dari 10 mikrometer, dan PM2.5 berukuran kurang dari 2,5 mikrometer, jauh lebih kecil dari rambut manusia.
Jenis Partikulat di Udara
BMKG menyebutkan dua jenis partikulat yang menjadi perhatian utama: PM10 dan PM2.5. PM10 dikenal sebagai partikel kasar yang dapat terhirup dan menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan bagian atas, seperti hidung dan tenggorokan. Sumbernya antara lain debu jalanan, serbuk sari, dan partikel besar lainnya. Sementara itu, PM2.5 adalah partikel halus yang paling berbahaya karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat menembus paru-paru hingga masuk ke aliran darah.
Dari Mana Asal Polusi Partikulat?
BMKG menjelaskan bahwa partikulat berasal dari berbagai aktivitas manusia. Sumber utama polusi partikulat meliputi: asap kendaraan bermotor yang menghasilkan PM2.5 dan PM10, asap industri dan pembangkit listrik dari pembakaran bahan bakar fosil, debu proyek konstruksi, serta asap kebakaran hutan dan pembakaran sampah. Semakin tinggi konsentrasi partikulat di udara, semakin besar potensi masyarakat terpapar, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.
Siklus Harian Polusi Partikulat
Konsentrasi PM2.5 tidak selalu sama setiap waktu. BMKG menjelaskan bahwa pada malam hingga pagi hari, konsentrasi PM2.5 cenderung lebih tinggi karena lapisan udara stabil sehingga polutan berkumpul di dekat permukaan. Pada siang hari, aktivitas masyarakat meningkat sehingga konsentrasi tetap tinggi. Sore hari, atmosfer yang lebih hangat membantu polutan terangkat ke lapisan udara lebih tinggi, sehingga konsentrasi PM2.5 di permukaan cenderung menurun.



