Seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun ditemukan tewas di dalam mobil di wilayah Paris, Prancis. Peristiwa ini menjadi kasus kematian anak ketiga yang terjadi di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda negara tersebut minggu ini.
Menurut sumber kepolisian Paris yang dikutip oleh AFP pada Kamis (25/6/2026), anak tersebut ditemukan oleh orang tuanya di dalam mobil yang terparkir di luar rumah mereka di kota Saint-Gratien, pinggiran Paris. Badan pertahanan sipil Prancis telah mengkonfirmasi kematian bocah malang itu.
Cuaca Terpanas dalam Sejarah Prancis
Pada Rabu (24/6) waktu setempat, Prancis mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah pengukuran sejak tahun 1947. Suhu di Paris mencapai 40,3 derajat Celsius, menjadikannya hari terpanas dalam 150 tahun terakhir. Walikota Paris, Emmanuel Gregoire, melaporkan peningkatan angka kematian di ibu kota, meskipun ia tidak merinci jumlah pastinya.
Sebelumnya, dua anak lainnya ditemukan tewas di dalam mobil di Prancis selatan pada hari Senin. Kedua korban, berusia dua dan empat tahun, ditemukan di dalam mobil keluarga mereka di tempat parkir perumahan di kota Carpentras.
Ratusan Orang Tewas Tenggelam Akibat Panas
Selain kematian di dalam mobil, puluhan orang juga tewas tenggelam di Prancis dalam upaya mendinginkan diri dari sengatan panas. Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu, usai rapat kabinet krisis pada Selasa pagi, mengungkapkan bahwa sekitar 40 kematian telah tercatat sejak Kamis pekan lalu.
Menteri Olahraga Marina Ferrari menambahkan bahwa banyak kasus tenggelam terjadi selama akhir pekan. "Ada sekitar 20 kematian sejak akhir pekan lalu," ujar Ferrari kepada radio France Inter pada Selasa, seperti dilansir DW. "Berenang di area yang tidak diizinkan saat gelombang panas melanda bukanlah hal yang bisa dianggap sepele," tegasnya.
Gelombang Panas Melanda Sebagian Besar Eropa
Prancis bukan satu-satunya negara yang dilanda cuaca ekstrem ini. Negara-negara Eropa lainnya seperti Spanyol, Inggris, Jerman, dan Italia juga mengalami gelombang panas. Menurut para pakar, fenomena ini dipicu oleh pola atmosfer dan sirkulasi yang menjebak udara panas selama berhari-hari, diperparah oleh pemanasan global.
Berbagai negara Eropa telah mengeluarkan peringatan cuaca dan langkah darurat, termasuk penutupan sekolah, peningkatan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan, dan gangguan kesehatan. Situasi ini menjadi pengingat akan bahaya gelombang panas yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.



