Kisah Pilu Keluarga Korban Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi
Kisah Pilu Keluarga Korban Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek

Jakarta - Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur menyisakan cerita pilu. Ada kisah menyayat hati saat keluarga korban berusaha mencari orang yang mereka kasihi. Sebagai informasi, kecelakaan tersebut terjadi pada Senin, 27 April malam, dan menewaskan total 16 orang.

Daftar Korban Meninggal

Berikut adalah nama-nama korban meninggal dari berbagai rumah sakit:

  • RS Polri Kramat Jati: Tutik Anitasari, Harum Anjasari, Nur Alimantun Citra Lestari, Farida Utami, Vica Acnia Fratiwi, Ida Nuraida, Gita Septia Wardany, Fatmawati Rahmayani, Arinjani Novita Sari, Nur Ainia Eka Rahmadhyna
  • RSUD Kota Bekasi: Nuryati, Nur Laela, Engar Retno Krisjayanti, Mia Citra
  • RS Mitra Bekasi: Adelia Rifani
  • RS Bella Bekasi: Ristuti Kustirahayu

Keluarga Dibantu Tetangga Cari Vica

Vica Acnia Fratiwi (23) menjadi salah satu korban. Keluarga Vica dibantu tetangganya mencari kabar tentang Vica. "Kaget gitu. Nangis. Nangis terus, habis itu minta bantuan tetangga bawa mobil antar ke Stasiun Bekasi Timur, karena kan nyetir sendiri masih belum bisa, lemes-lah," ujar kakak Vica, Nina Monica (30), di rumah duka kawasan Telaga Murni, Kabupaten Bekasi, Rabu (29/4/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Selain dibantu mengendarai mobil, tetangga Nina juga membantunya mencetak foto Vica untuk mempermudah pencarian. "Itu inisiatif tetanggaku biar gampang nyarinya gitu, kayak mukanya ini. Soalnya, benar-benar sudah minta bantu cari sama siapa aja nggak dapat orangnya," katanya.

Nina kemudian bercerita, saat awal pencarian, keluarga kesulitan mencari keberadaan Vica. Keluarga pada saat itu masih punya harapan besar Vica dalam kondisi selamat, tapi cerita akhirnya berbeda. "Kalau misalnya awalnya sih berharapnya masih selamat ya, karena kan cuma kayak, 'Oh nggak bisa dihubungi nih. Handphone-nya masih berdering'. Ya sudahlah, paling dia nggak bisa pulang atau HP-nya jatuh karena chaos kan. Pas disamperin ternyata kayak di Bekasi Timur sudah diblokade gitu kan. Terus kita jalan tuh dari yang lampu merah ke Stasiun Bekasi Timur, terus habis itu melihat ambulans berjejer, ya sudah ada poskonya," katanya.

"Ada poskonya sudah ditanyain ini kalau misalnya nama ini ada nggak, ya suruh cari ke rumah sakit kan, dikasih tahu list rumah sakitnya. Ternyata di rumah-rumah sakit itu nggak ada," sambungnya. Nina akhirnya menerima kabar pahit saat ke RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, adiknya menjadi korban kecelakaan kereta. Untuk memastikan identitas adiknya, Nina melakukan tes DNA. "Kalau misalnya dipastikan sebagai korban itu kemarin sih yang pukul 16.30 WIB ya, pas setelah hasil tes DNA aku sama korban itu yang jenazah itu valid baru di-fix, 'Oh, itu Vica'," katanya.

Nina mengenang Vica sebagai pribadi yang rajin, sempat salat Magrib sebelum naik KRL. "Orangnya cantik, pintar, nggak neko-neko, rajin ngaji dia. Rajin ngaji, rajin salat. Jadi kayak sebelum dia naik KRL pun itu juga salat Magrib dulu," katanya.

Chat 10 Menit Lagi Sampai

Ada juga kisah pilu dari Gita Septia Wardani (21). Gita sempat memberi pesan ke ayahnya "10 menit lagi sampai Cibitung" sebelum kecelakaan. Pesan itu disampaikan kakek Gita, Rajihun (63) saat mencari sang cucu di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4). "Sebelum kejadian, 10 menit sebelum kereta kecelakaan, dia sempat WA ke orang tuanya. 'Pak, 10 menit lagi saya sampai Cibitung'," kata Rajihun.

Rajihun mengatakan ayah Gita telah menunggu di Stasiun Cibitung. Namun, Gita yang pulang dari kuliah tak kunjung datang hingga tak bisa dihubungi. "Tapi kok setelah bapaknya jemput di Stasiun Cibitung ternyata kereta kecelakaan," kata Rajihun. Rajihun mengatakan saat itu sudah mencari ke beberapa rumah sakit di Bekasi. Namun dia belum menemukan nama Gita di daftar nama korban. "Saya sudah berusaha mencari di beberapa rumah sakit yang di-share di beberapa grup WA, ada RS Plumbon, RSUD Cibitung, Bella Bekasi Timur, RS Primaya Bekasi Timur, dan sekarang saya berusaha mencari di RSUD Bekasi pun tidak ada. Jadi saya harus mencari ke mana gitu," jelas dia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Rajihun sudah menemukan barang-barang milik Gita di Stasiun Bekasi Timur. Tas berisi dompet dan perlengkapan lain milik korban utuh. "Barang korban itu menang ada di posko Bekasi Timur, tasnya semua utuh. Jadi korban ini terlepas dari tas. Tasnya ada lengkap dengan isinya. HP, dompet, dan payung," ucapnya. Rajihun mengatakan orang tua Gita saat ini berada di rumah karena syok berat. "Syok, hanya di rumah hanya menunggu kabar dari saya," katanya.

Cerita Pilu Endang

Selanjutnya ada Endang. Cerita Endang yang harus bertahan hidup 10 jam akibat terjepit di dalam gerbong KRL diungkap sepupunya, Iqbal. Dia menyebut Endang sempat menelepon keluarga untuk meminta tolong agar segera diselamatkan. "Iya masih sempat buka HP ngabarin keluarga. Dia sampaikan dia ada di kereta yang kecelakaan dan minta tolong," kata Iqbal saat kepada wartawan, Selasa (28/4).

Tak hanya itu, Iqbal mendengar Endang menangis saat memberi kabar keluarga lewat telepon. Seingat Iqbal, telepon dari Endang berlangsung sekitar pukul 22.00 WIB. Mendengar hal itu, keluarga langsung menuju Stasiun Bekasi Timur untuk mencari keberadaan Endang. "Cuma dari jam 10.00 malam itu sampai jam 02.00 malam itu kita masih belum dapat kabar apakah korban ada di rumah sakit ataupun ada masih di dalam gitu. Cuma kita dapat informasi tambahan di jam 2 malam kalau misalkan korban itu masih di dalam," ucapnya.

Iqbal kemudian mendapat informasi dari berita. Keluarga akhirnya mengetahui kondisi Endang masih terjepit di dalam gerbong dalam kondisi lemas. "Jadi aku dapat salah satu foto dari pers itu korban itu masih di dalam dalam kondisi lemas dan udah di dalam proses oksigen ya, karena di situ dia udah posisinya udah dari jam 9 malam juga untuk terjepit gitu," kata Iqbal. Selanjutnya, Iqbal cerita proses evakuasi Endang berjalan perlahan. Hingga akhirnya berhasil dievakuasi oleh petugas sekitar pukul 07.00 WIB. "Itu karena posisi kakak saya itu agak paling belakang karena menunggu dari yang sebelum-sebelumnya untuk dievakuasi gitu. Jadi kakak saya baru selesai dievakuasi sekitar jam 7 pagi dan langsung dibawa ke RSUD Bekasi," imbuhnya.

Perjalanan Terakhir Bu Guru Nurlela

Selanjutnya, ada kisah Bu Guru Nurlaela (37). Kereta yang setiap hari membawa Nurlaela pulang dan pergi mengajar kini menjadi kendaraan terakhirnya menghadap Sang Ilahi. Nurlaela diketahui berprofesi sebagai Guru SD di Pejagan Pulogebang. Almarhumah belum lama ini menyelesaikan pendidikan S2 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Setiap harinya, Nurlaela rutin menggunakan KRL untuk pergi mengajar. Nurlaela mengajar dari pagi sampai sore.

Tepatnya di Senin malam itu, Nurlaela tak kunjung pulang dari mengajar. Kata paman Nurlaela, Mulyadi, keluarga sudah sangat cemas bahkan telepon pun tak diangkat. "Kami sudah khawatir karena belum pulang, ditelepon tidak angkat. Pas diangkat, orang lain. Dari pihak berwenang bilang handphone ditemukan, tapi korban belum diketahui ada di mana," ucapnya. Baru pada Selasa (28/4) malamnya tepat pukul 01.00 WIB, Mulyadi mendapati Nurlaela menjadi korban dalam insiden kecelakaan kereta di Bekasi. Jenazah Nurlaela dibawa ke rumah duka di Kampung Ceger, RT 02 RW 02, Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. "Jam satu kami baru ketemu, terus koordinasi dan jemput. Sampai rumah jam tiga pagi," katanya.

Banyak yang kehilangan sosok Bu Guru Nurlaela yang dikenal ulet. Nurlaela meninggalkan seorang anak yang kini duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Almarhumah dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga, tak jauh dari rumah duka. Duka yang mendalam juga disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana. Kata Nahdiana, Nurlaela dikenal sebagai sosok pendidik berdedikasi. "Kami sangat berduka cita atas kepergian Ibu Nurlela, salah seorang guru kami yang berdedikasi. Atas nama seluruh keluarga besar Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga almarhumah diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga diberikan kesabaran serta kekuatan," ujar Nahdiana dalam keterangannya, Selasa (28/4).

Mencari Ain

Kemudian, ada Karyawati KompasTV, Nur Ainia Eka Rahmadhynna (Ain atau Aini). Aini diketahui sempat memberi makan kucing di kantornya sebelum pulang naik KRL. "Saya menerima informasi dari tim KompasTV di hari ketika sebelum almarhumah Aini (panggilan korban di keluarga) menuju ke kereta, terlebih dahulu dia memberikan makan kucing-kucing di KompasTV sesaat sebelum ia pergi untuk menuju stasiun terdekat," kata Direktur Utama KompasTV Rosianna Silalahi (Rosi) dalam sambutannya saat pemakaman Aini di TPU Mangun Jaya, Kabupaten Bekasi, Rabu (29/4/2026).

Dia mengatakan hal tersebut membuktikan Aini adalah orang yang memberikan kebaikan. Dia mengatakan teman-teman Aini yang melayat datang dari berbagai tempat. "Dan hari ini, kemarin, kita melihat begitu banyak teman-teman dari tempat kuliah di Jogja, rekan-rekan masa sekolah dulu, juga rekan rekan KompasTV yang datang untuk memberikan penghormatan kepada Aini, menunjukkan bahwa ia seorang yang sungguh dicintai tidak saja oleh teman-temannya sejak kecil, maupun kenalannya, maupun kerabat kerjanya," katanya. Rosi memberikan pesan kepada tiga adik dari Aini. Rosi mengatakan jika adiknya patut berbangga memiliki kakak seperti Aini. "Ingatlah ia dengan cara yang selama ini selalu kita ingat. Pribadi yang ceria, periang, dan senantiasa mengasihi tidak saja sesama tapi makhluk hidup," kata Rosi.