Gunung Sampah 6 Meter di Pasar Induk Kramat Tak Surut Meski Sudah 4 Hari
Gunung Sampah 6 Meter di Pasar Kramat Tak Surut 4 Hari

Gunung Sampah 6 Meter di Pasar Induk Kramat Tak Kunjung Surut Meski Sudah Empat Hari

Liputan6.com, Jakarta - Tumpukan sampah yang mencapai ketinggian enam meter di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, masih belum menunjukkan tanda-tanda penyusutan yang berarti meski proses pengangkutan telah berlangsung selama empat hari berturut-turut. Puluhan truk sampah yang bolak-balik mengangkut limbah ternyata belum mampu mengatasi volume gunungan sampah yang terus menumpuk di lokasi tersebut.

Keterbatasan Armada Truk Jadi Kendala Utama

Salah satu petugas kebersihan di lokasi, Sugiat (55), mengungkapkan bahwa pengangkutan sampah berjalan lambat karena jumlah armada yang tersedia tidak memadai. "Kalau pengangkutan pertama, sekitar dua puluh truk, lalu berikutnya tiga belas. Sekarang, dari pagi baru beberapa, jadi belum kelihatan banyak berkurang," jelas Sugiat pada Selasa (31/3/2026).

Menurut pengakuannya, kondisi penanganan sampah saat ini jauh berbeda dengan operasi serupa yang dilakukan pada Januari lalu. Saat itu, puluhan truk dikerahkan setiap hari sehingga tumpukan sampah dapat segera teratasi. "Dulu, sehari bisa sampai 50 truk, dari pagi sampai sore, makanya cepat habis. Sekarang lebih sedikit, jadi lama untuk mengurangi volume sampah," tambah Sugiat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Minimnya Alat Berat Perparah Situasi

Selain keterbatasan jumlah truk pengangkut, minimnya penggunaan alat berat juga menjadi faktor penghambat dalam penanganan sampah di Pasar Induk Kramat Jati. Saat ini, hanya satu alat berat jenis shovel yang beroperasi untuk memindahkan sampah ke dalam truk. Padahal sebelumnya, dua alat berat—shovel dan ekskavator—dikerahkan secara bersamaan untuk mempercepat proses pembersihan.

Aktivitas pengangkutan memang masih terus dilakukan dengan sejumlah truk sampah yang tampak keluar-masuk area Tempat Penampungan Sementara (TPS). Namun, jumlah armada yang beroperasi dinilai belum mampu mengimbangi volume sampah yang terus bertambah dari aktivitas pasar.

Lingkungan Sekitar Terganggu: Becek dan Bau Menyengat

Dampak dari penumpukan sampah yang berkepanjangan ini sangat terasa di lingkungan sekitar. Jalanan di sekitar lokasi TPS tampak becek akibat campuran sampah dan air yang menggenang hingga ke badan jalan. Bau menyengat dari tumpukan sampah juga masih tercium kuat dan mengganggu aktivitas para pedagang serta pengunjung di kawasan pasar induk tersebut.

Kondisi ini memprihatinkan mengingat Pasar Induk Kramat Jati merupakan pusat perbelanjaan yang ramai dikunjungi masyarakat. Bau tidak sedap dan jalan yang licin akibat genangan air sampah menimbulkan ketidaknyamanan bagi semua pihak yang beraktivitas di area tersebut.

Komitmen Pemerintah Daerah dalam Penanganan

Sebelumnya, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur, Julius Monangta, telah memastikan bahwa pihaknya terus memberikan bantuan armada dan personel kebersihan untuk menjaga kondisi pasar tetap bersih dan tertata. Sebanyak 13 truk dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur telah dikerahkan untuk mengangkut sampah yang menggunung di Pasar Induk Kramat Jati sejak Senin (30/3).

"Jadi, memang itu fasilitas publik. Kita pasti mendukung fasilitas publik untuk tetap bersih dan nyaman," tegas Monang di Pulo Gebang, Jakarta Timur. Dia menegaskan bahwa bantuan dari Sudin LH Jakarta Timur tidak dibatasi waktu tertentu, melainkan akan terus dilakukan hingga kondisi sampah di lokasi tersebut benar-benar tertangani dengan baik.

Monang juga memastikan bahwa upaya penanganan terus dilakukan secara maksimal dengan target akhir sampah di Pasar Induk Kramat Jati dibersihkan seluruhnya. Komitmen ini penting untuk mengembalikan kenyamanan dan kebersihan lingkungan di sekitar pasar yang merupakan salah satu pusat ekonomi masyarakat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga