Operasi Ketupat 2026 Dinilai Sukses, Angka Kecelakaan Turun 30 Persen
Jakarta - Pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 dalam mengamankan arus mudik dan arus balik Lebaran dinilai berjalan dengan sangat baik. Hal ini diungkapkan oleh Guru Besar Tetap STIK Lemdiklat Polri, Prof Albertus Wahyurudhanto, berdasarkan hasil riset akademik yang dilakukan secara objektif menggunakan metode triangulasi.
Riset Akademik dengan Metode Triangulasi
Prof Albertus, yang juga merupakan Guru Besar Bidang Ilmu Pemerintahan, menjelaskan bahwa riset ini menggabungkan tiga sumber data utama. Pertama, survei persepsi masyarakat terhadap 3.200 responden dari 8 Polda. Kedua, data operasional dari posko terkait pergerakan kendaraan dan kecelakaan lalu lintas. Ketiga, metode Delphi yang melibatkan para ahli untuk menganalisis temuan di lapangan secara mendalam.
Profil responden dalam survei ini menunjukkan 71,91% laki-laki dan 28,09% perempuan. Usia dominan berada pada rentang 36-45 tahun (34,28%) dan 26-35 tahun (28,38%). Dari segi pendidikan, mayoritas responden berpendidikan SMA/sederajat (54,19%) dan S1 (33,06%). Sebaran wilayah responden juga seimbang, dengan 400 responden di setiap Polda yang terlibat.
"Hasil riset menunjukkan bahwa pelaksanaan Operasi Ketupat berjalan dengan baik, meskipun masih terdapat beberapa catatan seperti konsentrasi petugas yang terlalu fokus di jalur darat, padahal kendala juga muncul di simpul transportasi seperti pelabuhan dan rest area," ujar Prof Albertus saat audiensi Evaluasi Operasi Ketupat 2026 bersama Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho, Kamis (2/4/2026).
Keunggulan Sistem Pemantauan Real-Time
Salah satu keunggulan pelaksanaan Operasi Ketupat tahun ini, menurut Prof Albertus, adalah sistem pemantauan yang sudah berbasis real-time serta penerapan predictive traffic policing berbasis data. "Operasi Ketupat tahun ini adalah sistem pemantauan yang sudah bersifat real-time. Jika sebelumnya evaluasi hanya pada aspek pelayanan, kini kepolisian mulai beralih ke strategi predictive traffic policing yang berbasis data," jelasnya.
Strategi ini dinilai mampu membangun pemahaman di masyarakat bahwa rekayasa lalu lintas bukan sekadar kewajiban polisi, melainkan kebutuhan publik demi keselamatan dan kelancaran perjalanan masyarakat. "Strategi ini dinilai mampu membangun pemahaman di masyarakat bahwa rekayasa lalu lintas bukan sekadar kewajiban polisi, tetapi merupakan kebutuhan publik untuk keselamatan dan kelancaran perjalanan masyarakat," tutup Prof Albertus.
Pengamat Apresiasi Penurunan Kecelakaan 30 Persen
Pengamat perlindungan konsumen dan kebijakan publik, Tulus Abadi, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Operasi Ketupat 2026. Menurutnya, operasi ini berhasil menekan angka kecelakaan hingga 30 persen serta mencatat tingkat kepuasan masyarakat yang mencapai 94 persen.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari berbagai kebijakan yang diterapkan Korlantas Polri selama pengamanan arus mudik dan arus balik Lebaran tahun ini. "Operasi Ketupat tahun 2026 saya kira sudah telah mengeluarkan instrumen-instrumen yang sangat membantu untuk mengkontruksikan arus mudik berjalan lancar dan selamat," kata Tulus saat audiensi Evaluasi Operasi Ketupat 2026 pada Kamis (2/4/2026).
Ia menambahkan bahwa hasil survei menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi menjadi indikator bahwa pengamanan dan pelayanan kepada pemudik berjalan efektif. "Dari survei menunjukan dari 94% masyarakat puas dengan operasi ketupat yang ini harus kita jaga dan terus kita tingkatkan," tegasnya.
Selain itu, efektivitas rekayasa lalu lintas seperti sistem satu arah atau one way dinilai sangat membantu kelancaran arus mudik dan arus balik Lebaran. "Menurunkan tingkat kecelakaan hingga mencapai angka 30% dan kemudian instrumen one way itu sangat membantu, kedepan kebijakan ini dinilai sangat membantu sehingga ke depannya direncanakan untuk menjadi kebijakan permanen sehingga diupgrade petunjuk arah perambuan di jalan tol," ungkap Tulus.
Tulus berharap tingkat kepercayaan dan kepuasan masyarakat terhadap pelaksanaan Operasi Ketupat dapat terus dipertahankan agar perjalanan mudik ke depan semakin aman dan nyaman. Evaluasi ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas pengamanan arus mudik di tahun-tahun mendatang.



