Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, mengajak Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumut untuk memperkuat kolaborasi dan melakukan intervensi terpusat dalam memberantas peredaran gelap narkotika. Pemerintah Provinsi Sumut juga menyatakan kesiapan untuk mendukung dari sisi anggaran agar penanganan narkoba dapat dilakukan secara serius dan tuntas.
Intervensi Terpusat di Titik Rawan
"Pada pertemuan ini, saya ingin adanya kolaborasi kuat dalam penuntasan narkoba. Saya minta kita lakukan intervensi secara terpusat, khususnya difokuskan pada beberapa daerah yang menjadi titik masuk utama dan pusat peredaran narkoba," ujar Bobby dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Bobby saat menerima audiensi Kepala BNNP Sumut Brigjen Pol Tatar Nugroho beserta jajaran di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Nomor 30 Medan, kemarin.
Kekhawatiran terhadap Generasi Muda
Bobby mengaku khawatir terhadap masa depan generasi muda di Sumut. Pasalnya, narkoba kini semakin mudah diakses karena harganya yang makin terjangkau dan telah menyasar usia muda. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemprov Sumut akan mengambil langkah konkret dengan memperbanyak kegiatan masyarakat dan program-program positif di daerah rawan narkoba. Selain itu, Pemprov Sumut akan memperkuat edukasi dengan mendorong setiap kegiatan pemerintahan maupun kemasyarakatan menyisipkan pesan bahaya narkoba.
Kendala SDM dan Anggaran
Namun, Bobby mengakui masih terdapat kendala di tingkat provinsi, terutama keterbatasan sumber daya manusia yang berkompeten khusus dalam penanganan narkoba secara masif. Terkait keterbatasan anggaran BNNP Sumut, Bobby menyatakan Pemprov Sumut siap untuk membantu. "Kita minta program konkret dari BNNP. Mengenai anggaran, Pemprov Sumut akan berupaya membantu. Kita harus serius agar Sumut benar-benar terbebas dari narkoba," tegasnya.
Sumut Peringkat Pertama Pengguna Narkoba
Sementara itu, Kepala BNNP Sumut Brigjen Pol Tatar Nugroho mengungkapkan Sumatera Utara saat ini masih menempati peringkat pertama nasional dalam jumlah pengguna narkoba. "Dari sekitar 15 juta total penduduk Sumut, terdapat 10 persen yang menjadi pengguna narkoba. Tingkat penyebarannya pun belakangan ini sudah merambah hingga ke desa-desa," ungkap Tatar.
Ia menjelaskan tingginya angka penyalahgunaan narkoba di Sumut dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya kondisi geografis Sumut yang menjadi jalur utama masuknya narkoba. Wilayah Sumut juga diapit sejumlah titik rawan di bagian selatan yang menjadi pintu masuk penyelundupan.
Tren Pengguna Usia Sekolah
Tatar mengungkapkan pada tahun 2025 penyalahgunaan narkoba didominasi usia produktif 15 hingga 45 tahun. Namun, kini trennya mulai merambah anak-anak usia sekolah. Meski menghadapi keterbatasan anggaran, BNNP Sumut tetap fokus menekan peredaran narkoba di pintu-pintu masuk utama serta wilayah pedesaan. Upaya tersebut, menurutnya, mulai menunjukkan hasil dengan adanya penurunan angka peredaran di sejumlah wilayah.
"Kami sangat mengapresiasi sambutan bapak gubernur. Kami berharap momentum audiensi ini dapat memperkuat kolaborasi nyata dengan Pemprov Sumut guna menyelamatkan generasi bangsa," pungkasnya.



