Kebijakan penutupan program studi (prodi) yang dianggap tidak relevan kembali menuai sorotan. Pengamat pendidikan menilai langkah tersebut keliru karena kampus bukanlah pabrik yang hanya mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi harus tetap berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter, bukan sekadar menyesuaikan dengan kebutuhan industri sesaat.
Kritik terhadap Penutupan Prodi
Sejumlah pengamat menegaskan bahwa penutupan prodi berdasarkan kriteria relevansi pasar kerja sangat berbahaya. Menurut mereka, pendidikan tinggi memiliki peran lebih luas dalam membentuk pemikir kritis dan inovator. Jika hanya mengikuti tren pasar, maka ilmu dasar seperti filsafat, sastra, atau sejarah bisa terancam punah. Padahal, ilmu-ilmu tersebut justru menjadi fondasi peradaban.
Kampus Bukan Pabrik Buruh
Pernyataan bahwa kampus bukan pabrik buruh menjadi sentral dalam kritik ini. Pengamat menekankan bahwa tujuan utama perguruan tinggi adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar menyuplai tenaga kerja. Mereka khawatir jika kebijakan ini terus berlanjut, maka pendidikan tinggi akan kehilangan esensinya dan hanya menjadi lembaga pelatihan vokasi.
- Prodi ilmu dasar seperti matematika, fisika, dan kimia sering dianggap tidak relevan karena minim serapan kerja langsung, padahal ilmu tersebut penting untuk inovasi jangka panjang.
- Penutupan prodi juga berdampak pada dosen dan tenaga kependidikan yang kehilangan pekerjaan, serta mahasiswa yang terpaksa pindah atau putus studi.
- Kebijakan ini dinilai terlalu pragmatis dan mengabaikan peran strategis universitas dalam membangun sumber daya manusia yang unggul secara holistik.
Dampak bagi Dunia Pendidikan
Kebijakan penutupan prodi yang dianggap tidak relevan ini telah memicu protes dari berbagai kalangan akademisi. Mereka meminta pemerintah untuk mengkaji ulang kriteria relevansi yang digunakan. Jangan sampai ukuran relevansi hanya didasarkan pada kebutuhan industri jangka pendek, karena hal itu justru akan merugikan perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.
Selain itu, pengamat juga menyoroti bahwa banyak lulusan prodi yang dianggap tidak relevan justru sukses di berbagai bidang. Contohnya, lulusan filsafat yang bekerja di perusahaan teknologi, atau lulusan sastra yang menjadi kreator konten. Artinya, relevansi suatu prodi tidak bisa diukur secara sempit dari data serapan kerja semata.
Alternatif Solusi
Alih-alih menutup prodi, pengamat menyarankan agar pemerintah dan perguruan tinggi melakukan revitalisasi kurikulum. Prodi yang dianggap kurang relevan bisa diperbarui dengan menambahkan mata kuliah keterampilan praktis tanpa menghilangkan esensi keilmuan. Dengan cara ini, lulusan tetap memiliki kompetensi yang dibutuhkan pasar tanpa mengorbankan nilai-nilai akademis.
- Melakukan asesmen menyeluruh terhadap setiap prodi untuk mengetahui kelemahan dan potensi pengembangannya.
- Mengintegrasikan pendidikan karakter dan kewirausahaan ke dalam kurikulum agar lulusan lebih adaptif.
- Membangun kerja sama dengan industri untuk magang dan proyek nyata, sehingga mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi harus mampu menyeimbangkan antara kebutuhan pasar dan pengembangan ilmu. Kampus bukanlah pabrik buruh yang hanya mencetak pekerja, melainkan tempat pembentukan manusia yang utuh. Kebijakan penutupan prodi yang tidak relevan perlu dievaluasi secara cermat agar tidak merusak masa depan pendidikan Indonesia.



