Yusril Raih Gelar Doktor Kedua di UI, Disertasi Soal Pemikiran Natsir
Yusril Raih Doktor Kedua di UI, Disertasi Natsir

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, kembali menorehkan prestasi akademik. Ia berhasil lulus sidang promosi Doktor di Universitas Indonesia (UI) pada Kamis, 2 Juli 2026. Ini merupakan gelar doktor kedua yang diraihnya, setelah sebelumnya meraih gelar doktor di bidang Ilmu Politik dari Universiti Sains Malaysia pada tahun 1993.

Disertasi tentang Pemikiran Mohammad Natsir

Dalam sidang promosi tersebut, Yusril mempertahankan disertasi yang mengangkat tema pemikiran politik Mohammad Natsir, khususnya mengenai relasi agama dan negara. Topik ini dinilai relevan dengan latar belakang Yusril sebagai akademisi dan praktisi hukum yang kerap membahas hubungan antara hukum, agama, dan negara.

Menurut Yusril, pemikiran Natsir tentang integrasi agama dan negara masih sangat kontekstual hingga saat ini. Ia menilai Natsir sebagai tokoh yang mampu menjembatani antara nilai-nilai keislaman dan sistem kenegaraan modern.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Alasan Mengambil Program Doktor Kedua

Yusril mengungkapkan alasan di balik keputusannya untuk menempuh pendidikan doktor untuk kedua kalinya. Baginya, belajar adalah proses sepanjang hayat. Ia ingin memperdalam kajian filsafat yang selama ini menjadi minatnya, terutama dalam konteks pemikiran politik Islam di Indonesia.

“Saya merasa perlu memperkuat landasan keilmuan di bidang filsafat, agar analisis saya terhadap persoalan hukum dan kenegaraan lebih komprehensif,” ujar Yusril dalam keterangan pers setelah sidang. Ia juga menambahkan bahwa disertasinya ini merupakan bentuk apresiasi terhadap jasa Mohammad Natsir sebagai negarawan dan pemikir besar.

Dampak bagi Karier dan Kebijakan

Dengan tambahan gelar doktor ini, Yusril diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih dalam perumusan kebijakan di bidang hukum dan HAM. Penguasaannya terhadap filsafat politik Islam dapat memperkaya perspektif dalam menyelesaikan berbagai persoalan kebangsaan, termasuk isu radikalisme dan intoleransi.

Sebagai Menko, Yusril juga bertanggung jawab mengoordinasikan kebijakan imigrasi dan pemasyarakatan. Latar belakang akademik yang kuat diharapkan membantunya dalam mengambil keputusan yang berbasis riset dan nilai-nilai keadilan.

Yusril menegaskan bahwa pendidikan formal bukanlah segalanya, tetapi merupakan sarana untuk terus mengasah kemampuan berpikir kritis. Ia berharap pencapaiannya ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tidak berhenti belajar meskipun telah berada di posisi puncak karier.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga