BNN dan RMI NU DKI Soroti Bahaya Vape di Lingkungan Pesantren Jakarta
BNN dan RMI NU DKI Soroti Bahaya Vape di Pesantren

BNN dan RMI NU DKI Jakarta Soroti Bahaya Vape di Lingkungan Pesantren

Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU DKI Jakarta secara tegas menyoroti ancaman serius penggunaan vape atau rokok elektronik di kalangan santri. Dalam seminar bertajuk "Vape dalam Bahaya" yang digelar pada Jumat (17/4), kedua lembaga ini mengungkap berbagai fakta mengkhawatirkan terkait zat berbahaya dalam vape dan dampaknya bagi kesehatan.

Seminar Sosialisasi Bahaya Vape untuk Pesantren

Kegiatan yang berlangsung di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, ini menghadirkan sejumlah tokoh kunci. Di antaranya adalah Ketua RMI NU DKI Jakarta KH Rahmad Zaelani Kiki sebagai tuan rumah, Ketua Umum Barisan Ksatria Nusantara (BKN) Gus Rofi yang bertindak sebagai host, serta Irjen Agus Irianto yang mewakili Kepala BNN Suyudi Ario Seto.

KH Rahmad Zaelani Kiki menegaskan pentingnya peran pesantren sebagai benteng moral dan kesehatan umat. "Edukasi mengenai bahaya vape harus terus digencarkan agar para santri memiliki kesadaran sejak dini untuk menjauhi hal-hal yang merusak diri," ujarnya dalam keterangan resmi.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Temuan BNN Mengenai Risiko Vape

Irjen Agus Irianto dari BNN mengungkapkan berbagai temuan mengejutkan terkait vape. Ia menjelaskan bahwa secara fisik, bentuk vape seringkali menyerupai alat konsumsi narkotika, sehingga berpotensi tinggi untuk disalahgunakan. Selain itu, dalam sejumlah kasus, BNN menemukan indikasi kandungan berbahaya seperti logam berat hingga kemungkinan zat narkotika seperti ganja cair yang dicampurkan melalui laboratorium ilegal.

"Zat yang masuk ke dalam tubuh melalui vape tidak sepenuhnya diketahui. Kandungan logam dan bahan kimia dapat merusak sel tubuh, memengaruhi jantung, serta mengganggu suplai oksigen yang seharusnya berfungsi untuk regenerasi sel," tegas Irjen Agus Irianto pada Sabtu (18/4/2026).

Kesaksian Mengharukan dari Lansia

Dalam seminar tersebut, seorang bapak lansia maju secara sukarela untuk memberikan kesaksian pribadi yang sangat mengharukan. Ia menceritakan kehilangan anak dan keponakannya yang meninggal dunia setelah menggunakan vape selama kurang lebih satu tahun. Keduanya mengalami gangguan paru-paru serius dan dalam waktu dua minggu nyawa mereka tidak tertolong.

Kesaksian ini berhasil menggugah perhatian seluruh peserta seminar. Menanggapi hal itu, Irjen Agus Irianto menyatakan bahwa kisah nyata seperti ini sangat penting untuk disampaikan kepada publik secara luas. "Pada 26 Juni mendatang, bertepatan dengan Hari Anti Narkotika Internasional, kami akan mengundang bapak ini secara khusus untuk memberikan testimoni," ungkapnya.

Pentingnya Edukasi Berkelanjutan

Seminar ini tidak hanya sekadar sosialisasi, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam upaya pencegahan penyalahgunaan vape di lingkungan pesantren. BNN dan RMI NU DKI Jakarta berkomitmen untuk terus mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda, tentang risiko kesehatan dan hukum yang terkait dengan penggunaan vape.

Dengan tema Sosialisasi Bahaya Penggunaan Vape untuk Pesantren, acara ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan dan mendorong perilaku hidup sehat di kalangan santri serta masyarakat luas.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga