Mengenal Fenomena El Nino 'Godzilla': Asal-usul Nama dan Dampaknya di Indonesia
El Nino 'Godzilla': Asal Nama dan Dampak di Indonesia

Mengenal Fenomena El Nino 'Godzilla': Asal-usul Nama dan Dampaknya di Indonesia

Fenomena El Nino kembali menjadi sorotan publik setelah muncul istilah El Nino "Godzilla" yang diprediksi berpotensi memengaruhi kondisi cuaca di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Istilah ini merujuk pada El Nino dengan intensitas sangat kuat yang dapat memicu perubahan iklim ekstrem secara global.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui kajian ilmiahnya menjelaskan bahwa fenomena El Nino berkekuatan besar dapat berdampak signifikan pada pola musim dan curah hujan di Indonesia. Lalu, apa sebenarnya El Nino Godzilla dan bagaimana dampaknya bagi Indonesia? Berikut penjelasan lengkapnya.

Apa Itu Fenomena El Nino Godzilla?

Mengutip artikel yang dilansir BMKG, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang melebihi kondisi normal. Fenomena ini memengaruhi pola angin, awan, dan curah hujan di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia, dengan cara yang kompleks.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dalam kajian BMKG, El Nino termasuk bagian dari fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang berdampak global terhadap sistem atmosfer dan cuaca. Pemanasan suhu laut tersebut menyebabkan perubahan sirkulasi atmosfer sehingga distribusi hujan menjadi tidak merata di sejumlah wilayah tropis, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

Adapun istilah El Nino "Godzilla" sendiri digunakan untuk menggambarkan El Nino dengan kekuatan sangat besar atau super El Nino, yang ditandai dengan anomali suhu permukaan laut tinggi dan dampak iklim yang lebih luas dibandingkan El Nino biasa. Istilah ini muncul setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut kemungkinan kombinasi fenomena ENSO positif dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang dapat memperkuat efeknya.

Asal-usul Penamaan El Nino Godzilla

Istilah "Godzilla" pertama kali diperkenalkan pada tahun 2015 oleh ilmuwan NASA, Bill Patzert. Ia menggunakan kata "Godzilla" untuk menggambarkan kekuatan El Nino yang luar biasa besar, salah satu yang terkuat sejak 1950, dengan analogi pada monster fiksi yang terkenal akan kekuatannya yang dahsyat.

Dengan kata lain, bukan berarti ada jenis El Nino baru, melainkan El Nino yang dikhawatirkan berkembang sangat besar dan membawa dampak luas, terutama kekeringan, berkurangnya air, gangguan pertanian, dan tekanan pada ketahanan pangan. Penamaan ini bertujuan untuk menyoroti potensi skala dan intensitas fenomena ini yang bisa lebih ekstrem dari biasanya.

Dampak El Nino Godzilla di Indonesia

Secara umum, El Nino berpotensi menurunkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga memicu musim kemarau lebih panjang dan kering. Dampak ini dapat diperparah jika fenomena ini berkembang menjadi El Nino Godzilla dengan kekuatan super.

Adapun dampak yang dapat terjadi antara lain:

  • Penurunan curah hujan di banyak wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan dan timur.
  • Kemarau lebih panjang dan kering, yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan.
  • Risiko kekeringan meningkat, mengancam pasokan air bersih untuk masyarakat.
  • Potensi kebakaran hutan dan lahan, seperti yang sering terjadi di Sumatera dan Kalimantan.
  • Gangguan sektor pertanian dan ketersediaan air, yang dapat mempengaruhi produksi pangan nasional.

Dampak tersebut telah terlihat pada kejadian El Nino sebelumnya, di mana beberapa wilayah mengalami kekeringan parah, peningkatan hotspot kebakaran, serta gangguan produksi pertanian akibat kurangnya pasokan air. Oleh karena itu, pemantauan dan kesiapsiagaan dari pihak berwenang sangat penting untuk mitigasi risiko ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga