Seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta bernama Wafi berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Ia dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada sidang terbuka senat dalam rangka wisuda periode April 2026. Prestasi ini terasa istimewa karena diraih di tengah keterbatasan ekonomi yang mengharuskannya bekerja sebagai marbot masjid selama masa studi.
Perjuangan Wafi Menempuh Pendidikan Tinggi
Wafi berasal dari keluarga sederhana. Sejak awal kuliah, ia sudah bertekad untuk tidak membebani orang tua. Ia memutuskan untuk bekerja sambilan sebagai marbot di sebuah masjid dekat kampus. Tugasnya meliputi membersihkan masjid, mengurus perlengkapan salat, dan membantu kegiatan keagamaan. Meski pekerjaannya berat, Wafi tidak pernah mengeluh.
Ia menjalani hari-hari dengan padat. Pagi hingga siang ia mengikuti perkuliahan, sore hingga malam ia bekerja di masjid. Waktu istirahat sering digunakan untuk belajar dan mengerjakan tugas. Disiplin dan manajemen waktu yang baik menjadi kunci keberhasilannya.
Dukungan dari Lingkungan Sekitar
Wafi mengaku tidak sendiri dalam perjuangannya. Dosen dan teman-teman selalu memberikan dukungan moral. Pengurus masjid tempatnya bekerja juga sangat memahami kondisinya dan memberikan kelonggaran waktu saat ujian tiba. Hal ini memotivasinya untuk terus berprestasi.
Selain itu, Wafi juga aktif dalam kegiatan organisasi kampus. Ia bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa bidang keagamaan dan sering menjadi panitia acara. Pengalaman ini mengasah kemampuan kepemimpinan dan komunikasinya.
Pencapaian Akademik yang Gemilang
Wafi berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98. Angka ini menjadikannya lulusan terbaik di fakultasnya. Ia juga menyelesaikan tugas akhir dengan predikat sangat memuaskan. Skripsinya tentang moderasi beragama di kalangan mahasiswa mendapat apresiasi dari para penguji.
Rektor UIN Sunan Kalijaga dalam sambutannya menyampaikan kebanggaan atas prestasi Wafi. Ia menegaskan bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh latar belakang ekonomi, melainkan oleh kerja keras dan ketekunan. Wafi dianggap sebagai contoh nyata dari semangat pantang menyerah.
Harapan dan Rencana ke Depan
Usai wisuda, Wafi berencana melanjutkan studi ke jenjang magister. Ia ingin mendalami kajian Islam dan berkontribusi dalam pengembangan pendidikan agama. Ia juga bercita-cita menjadi dosen agar bisa menginspirasi lebih banyak mahasiswa dari kalangan kurang mampu.
Wafi berpesan kepada mahasiswa lain yang memiliki keterbatasan ekonomi untuk tidak putus asa. Ia menekankan bahwa bekerja sambil kuliah bukanlah halangan, melainkan peluang untuk belajar manajemen waktu dan kemandirian. Kisahnya diharapkan dapat memotivasi generasi muda untuk terus berjuang meraih mimpi.



