Iran Sebut Ancaman Blokade Trump Konyol dan Menggelikan
Komandan Angkatan Laut Iran, Laksamana Muda Shahram Irani, dengan tegas menyebut ancaman terbaru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz sebagai tindakan yang sangat konyol dan menggelikan. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks ketegangan yang meningkat setelah kegagalan perundingan damai antara kedua negara di Pakistan.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip oleh media Iran, Irani menegaskan bahwa militer Iran terus memantau dengan ketat setiap pergerakan armada Amerika Serikat di wilayah strategis tersebut. Para prajurit pemberani Angkatan Laut Republik Islam Iran melacak dan memantau semua pergerakan militer AS yang agresif di wilayah tersebut, ujarnya, menekankan kesiapsiagaan negara itu dalam menghadapi potensi konflik.
Militer AS Mulai Blokade Semua Pelabuhan Iran
Sementara itu, militer Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka akan segera memulai blokade terhadap semua pelabuhan Iran, yang dijadwalkan dimulai pada hari Senin (13/4/2026) waktu setempat. Keputusan ini diambil setelah pembicaraan damai di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan, dengan Washington menyalahkan penolakan Iran untuk meninggalkan ambisi nuklirnya.
Komando Pusat AS menyatakan bahwa blokade akan diberlakukan secara adil terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan di Teluk Arab dan Teluk Oman. Blokade ini dijadwalkan dimulai pada pukul 14.00 GMT pada hari yang sama, menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang telah berlangsung selama enam minggu antara AS-Israel dengan Iran.
Iran Tegaskan Tidak Akan Tunduk pada Ancaman
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada ancaman apa pun dari Amerika Serikat. Dalam pernyataannya setelah kembali dari Islamabad, Ghalibaf menyatakan bahwa Iran siap menghadapi segala bentuk konfrontasi. Jika mereka melawan, kami akan melawan, dan jika mereka mengajukan argumen logis, kami akan menghadapinya dengan logika, katanya, seperti dilaporkan oleh Al Arabiya.
Ghalibaf memimpin delegasi Iran dalam perundingan damai yang gagal dengan AS di Pakistan, dan pernyataannya mencerminkan sikap keras Teheran dalam menghadapi tekanan internasional. Dia menambahkan bahwa Iran siap memberikan pelajaran yang lebih besar jika Amerika Serikat mencoba menguji tekad negara itu.
Israel Beri Sinyal Kemungkinan Serangan Lanjutan
Di sisi lain, sejumlah menteri Israel mulai mengisyaratkan kemungkinan dilanjutkannya serangan terhadap Iran setelah kegagalan perundingan damai. Menteri Energi Israel, Eli Cohen, dalam wawancara dengan harian Yedioth Ahronoth, menyatakan bahwa Teheran dapat diserang jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Cohen menekankan bahwa isu nuklir Iran bersifat internasional dan mendukung garis merah yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump. Pernyataan ini muncul setelah gencatan senjata dua minggu yang disepakati antara AS-Israel dengan Iran, yang sempat menghentikan perang enam minggu antara pihak-pihak yang bertikai.
Inggris Tolak Bergabung dengan Blokade AS
Dalam perkembangan terkait, pemerintah Inggris dengan tegas menolak untuk berpartisipasi dalam blokade Selat Hormuz yang diusulkan oleh Amerika Serikat. Juru bicara pemerintah Inggris menyatakan bahwa mereka terus mendukung kebebasan navigasi dan pembukaan Selat Hormuz, yang dianggap sangat penting untuk mendukung ekonomi global dan biaya hidup di dalam negeri.
Selat Hormuz tidak boleh dikenakan tarif tol, tegas juru bicara tersebut, seperti dikutip oleh Sky News. Penolakan Inggris ini menambah dimensi diplomatik pada krisis yang sedang berlangsung, menunjukkan perpecahan potensial di antara sekutu-sekutu Barat dalam menanggapi kebijakan AS terhadap Iran.
Kesimpulan: Ketegangan Internasional yang Terus Meningkat
Dengan ancaman blokade dari AS, penolakan keras dari Iran, sinyal serangan dari Israel, dan penolakan Inggris untuk bergabung, situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas. Kegagalan perundingan damai di Pakistan telah membuka jalan bagi eskalasi konflik yang lebih lanjut, dengan potensi dampak signifikan terhadap stabilitas global dan keamanan maritim di Selat Hormuz.
Iran terus memantau pergerakan militer AS dengan cermat, sementara AS bersiap untuk menerapkan blokade pelabuhan yang dapat mempengaruhi perdagangan internasional. Dunia internasional kini menantikan perkembangan lebih lanjut, dengan harapan bahwa dialog diplomatik dapat segera dibuka kembali untuk mencegah konflik yang lebih luas.



